Jakarta, GPriority.co.id – Kesibukan pekerjaan, mengurus anak, mengelola keuangan, hingga berbagai tanggung jawab rumah tangga dapat membuat pasangan tanpa sadar semakin jarang menghabiskan waktu bersama. Jika berlangsung terus-menerus, kebiasaan tersebut ternyata dapat memengaruhi kehidupan seks dalam pernikahan.
Laporan New York Post pada 8 Agustus 2026 menyoroti peringatan Dr. Anna Elton, terapis pernikahan dan keluarga berlisensi sekaligus seksolog klinis di Massachusetts. Menurutnya, tidak ada angka pasti mengenai seberapa sering pasangan yang menikah harus berhubungan seks agar dianggap sehat.
“Tidak ada angka yang ditentukan secara medis yang mendefinisikan kehidupan seks yang sehat,” ujar Elton kepada Fox News Digital.
Menurutnya, yang lebih penting adalah apakah kedua pasangan merasa terhubung, puas, dan dihargai dalam hubungan intim mereka. Elton menjelaskan, masalah dapat muncul ketika pasangan terlalu lama membiarkan hubungan berjalan tanpa koneksi yang disengaja. Pekerjaan, anak, dan kewajiban sehari-hari dapat membuat pasangan menjalani kehidupan yang berjalan berdampingan tetapi semakin sedikit memiliki waktu berkualitas bersama.
“Jika kita hanya menunggu sampai suasana hati tepat atau semuanya berjalan sempurna, pekerjaan, anak-anak, dan tanggung jawab sehari-hari biasanya akan menghalangi,” kata Elton.
Ia menggambarkan kondisi tersebut sebagai pasangan yang mulai menjalani “kehidupan paralel”. Percakapan akhirnya hanya berkisar pada jadwal, pekerjaan rumah, tagihan, dan anak. Sementara itu, sentuhan fisik, kasih sayang, rayuan, serta aktivitas menyenangkan bersama semakin berkurang dan digantikan stres, konflik, serta rasa kesal.
Menariknya, Elton juga menemukan pasangan yang tetap melakukan hubungan seksual secara rutin hanya untuk menghindari konflik. Dari luar, kehidupan seks mereka mungkin terlihat baik, tetapi secara emosional mereka sebenarnya merasa jauh dan tidak terpenuhi.
“Keintiman fisik dan kedekatan emosional berjalan beriringan. Jika kita ingin meningkatkan kehidupan seks, kita harus fokus pada hubungan itu sendiri,” ujarnya.
Temuan tersebut sejalan dengan penelitian yang diterbitkan melalui Archives of Sexual Behavior. Meta-analisis terhadap berbagai penelitian menemukan adanya hubungan positif antara komunikasi seksual dengan kepuasan hubungan dan kepuasan seksual. Bahkan, kualitas komunikasi seksual memiliki hubungan yang lebih kuat dibandingkan sekadar seberapa sering pasangan membicarakan seks.
Elton menyarankan pasangan membicarakan kebutuhan dan harapan masing-masing, termasuk menentukan tingkat keintiman yang dirasakan memuaskan oleh keduanya. Perbedaan gairah seksual merupakan hal yang normal, tetapi perlu dihadapi sebagai sebuah tim.
“Alih-alih menekan atau menarik diri, pasangan berkomunikasi secara terbuka, menghormati batasan satu sama lain, dan bekerja sama menemukan pendekatan terhadap keintiman yang terasa memuaskan bagi keduanya,” jelas Elton.
Karena itu, menjaga hubungan suami istri bukan hanya soal frekuensi hubungan seksual. Waktu berkualitas, komunikasi, kasih sayang, sentuhan fisik, dan perhatian sehari-hari dapat menjadi bagian penting dalam mempertahankan kedekatan pasangan.
