Bisnis Padel di Swedia Terpuruk, Akankah Indonesia Menyusul?

Bisnis padel di Swedia terpuruk/Foto : Dok. NX Padel Bisnis padel di Swedia terpuruk/Foto : Dok. NX Padel

Swedia, GPriority.co.id – Bisnis padel di Swedia dilaporkan terpuruk. Sebelumnya, olahraga ini terkenal di negara tersebut sejak masa pandemi.

Menurut laporan yang dikutip dari FIP pada Februari 2024 lalu, olahraga padel semakin berkembang pesat hingga saat ini. Ada lebih dari 4.000 lapangan serta 600.000 pemain di seluruh negeri, dan menjadikannya sebagai salah satu olahraga dengan pertumbuhan tercepat di negara Swedia.

Namun dalam kondisi yang sudah normal kembali seperti saat ini, minat warga Swedia terhadap padel pun kian menurun hingga banyak lapangan padel di Swedia yang tidak terpakai.

Akar masalah dimulai dari lapangan-lapangan padel di Swedia yang muncul terlalu cepat. Seperti di Uppsala misalnya, jumlah lapangan padel melonjak dari hanya 14 menjadi 100 dalam kurun waktu satu tahun. Jumlah tersebut disebut jauh lebih banyak daripada pemain padel lokal, sebagaimana dilansir dari laporan Padel News Australia.

Akibatnya, saat ini kian banyak lapangan padel yang terbelngkalai bahkan telah diubah menjadi toko kelontong atau unit penyimpanan.

Selain itu, perusahaan-perusahaan besar juga sedang berjuang. Seperti We Are Padel yang didukung oleh grup ekuitas swasta Triton, terpaksa menutup lebih dari 50 lokasi dan merugi sekitar 716 juta kronor Swedia pada tahun lalu, sebagaimana dilaporkan The Straits Times.

Begitupun dengan perusahaan lain, PDL United, yang bangkrut dan banyak bisnis kecilnya juga terpaksa ditutup. Meski laporan Deloitte menyebut jika pasar padel global bisa mencapai 4 milliar euro pada tahun 2026, namun kondisi di Swedia saat ini dapat menjadi pengingat bahwa pertumbuhan yang terlalu cepat tanpa rencana yang matang, dapat menjadi bumerang di masa depan.

Di Indonesia sendiri, kini bisnis lapangan padel semakin pesat. Dibandingkan olahraga tenis, padel memiliki ukuran lapangan yang lebih efisien. Secara sederhana, satu lapangan tenis bisa dikonversikan menjadi 2 sampai 3 lapangan padel sekaligus.

Dalam satu lahan yang sama, klub padel bisa menyediakan lebih banyak lapangan, dan dapat meningkatkan frekuensi sewa lapangan hingga pendapatan yang lebih tinggi.

Sebagai gambaran, jika membangun lapangan tenis menghabiskan biaya hingga Rp250-400 juta, maka untuk lapangan padel, membutuhkan modal hingga Rp360-975 juta.

Namun, dengan semakin menjamurnya lapangan padel di Indonesia khususnya Jakarta, dikhawatirkan suatu saat popularitas olahraga ini akan menurun dan tak menutup kemungkinan akan bernasib sama seperti di Swedia.