Praktisi Kesehatan Tolak Dana MBG ke Orang Tua: Saya Khawatir Dibuat Beli Rokok

Praktisi Kesehatan Masyarakat sekaligus Kepala Seksi Pelayanan Medik & Keperawatan RSUD Tamansari, dr Ngabila Salama tolak dana MBG diberikan ke orang tau/Foto : Dok dr Ngabila Salama Praktisi Kesehatan Masyarakat sekaligus Kepala Seksi Pelayanan Medik & Keperawatan RSUD Tamansari, dr Ngabila Salama tolak dana MBG diberikan ke orang tau/Foto : Dok dr Ngabila Salama

Jakarta, GPriority.co.id – Praktisi Kesehatan Masyarakat sekaligus Kepala Seksi Pelayanan Medik & Keperawatan RSUD Tamansari, dr. Ngabila Salama, menegaskan tidak setuju dengan usulan Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Charles Honoris, yang mendorong agar dana program Makan Bergizi Gratis (MBG) diberikan langsung kepada orang tua.

Usulan tersebut muncul menyusul maraknya kasus keracunan MBG belakangan ini.

“Saya tidak setuju dana MBG diberikan ke orang tua. Saya khawatir dibelanjakan rokok,” kata dr. Ngabila kepada GPriority, Rabu (24/9).

Menurutnya, anggaran MBG perlu dihitung kembali, sekaligus diprioritaskan untuk kelompok yang benar-benar membutuhkan.

“MBG sebaiknya lebih dipilih atau diprioritaskan untuk sekolah dengan kelompok ekonomi menengah dan ke bawah, bukan sekolah elit. Karena di sekolah elit, asupan gizi anak sudah baik dan sesuai konsep Isi Piringku dari Kemenkes RI,” ucapnya.

Dr. Ngabila juga menekankan perlunya pemantauan terhadap penyedia katering sekolah yang sudah ada di beberapa sekolah.

Ia merinci sejumlah manfaat MBG khusus bagi kelompok ekonomi menengah dan menengah ke bawah, diantaranya:

1. Memberi gizi seimbang bagi anak sekolah agar siap menghadapi puncak bonus demografi 2030 dan mewujudkan Indonesia Emas 2045 dengan generasi sehat, cerdas, kuat, produktif, dan kompetitif.

2. Mempersiapkan fisik dan mental calon orang tua, terutama calon ibu hamil. Asupan gizi yang baik mencegah anemia, yang saat kehamilan dapat meningkatkan risiko stunting pada balita. Dari sisi mental, anak-anak juga belajar contoh nyata bagaimana menyusun makanan murah, bergizi, dan proporsional sesuai konsep Isi Piringku, yang nantinya bisa mereka terapkan saat menjadi orang tua.

Ia menambahkan, pola asuh bayi, balita, dan anak sangat dipengaruhi faktor utama seperti nutrisi, stimulasi, deteksi dini, pendidikan orang tua, serta akses ke layanan kesehatan.

Karena itu, ia mendorong agar menu MBG benar-benar sehat dengan mengutamakan bahan alami dan pangan lokal. 

Menurut dr Ngabila, pemerintah juga perlu memberikan pelatihan, monitoring berkala, serta pengawasan berjenjang hingga tingkat kelurahan/desa. Salah satu upayanya adalah memanfaatkan buku digital resep makanan bergizi murah yang telah dibuat Kemenkes RI atau olahan makanan dari buku KIA, yang bisa diakses melalui situs Ayosehat Kemenkes.

Isi Piringku adalah setengah piring berisi sayur dan buah, semakin berwarna, semakin baik, serta setengah piring lainnya berisi karbohidrat dan lauk tinggi protein hewani,” ujarnya.

Selain itu, ia menekankan pentingnya pemberian reward dan punishment bagi penyedia MBG, agar mutu tetap terjaga. Program ini juga sebaiknya dibarengi edukasi kesehatan.

Pewarta : Fifi Abdurahman