Muara Teweh, GPriority.co.id – Rekaman udara yang diunggah aktivis lingkungan Chanee Kalaweit kembali menyoroti persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah.
Video yang dibagikan melalui akun Instagram @chaneekalaweit memperlihatkan kepulan asap tebal dan sejumlah titik api di kawasan hutan wilayah Muara Teweh.
Dalam unggahan tersebut, Chanee menduga kebakaran berkaitan dengan aktivitas pembukaan lahan yang dipersiapkan untuk perkebunan kelapa sawit. Berdasarkan laporan yang mengutip unggahan Chanee, rekaman patroli udara itu dibuat pada 7 Juli 2026. Ia menyoroti penggunaan api dalam proses pembukaan lahan.
“Api demi sawit. Musim kemarau belum benar-benar tiba, tetapi lahan sudah mulai diubah menjadi perkebunan kelapa sawit. Di mana-mana, api digunakan sebagai sekutu… yang di shooting adalah lahan yang sudah di tebang, baru di bakar…” demikian pernyataan Chanee yang dikutip media.
Dugaan tersebut belum dapat dianggap sebagai kesimpulan mengenai penyebab kebakaran di Muara Teweh. Kepastian mengenai asal-usul api, status kawasan, maupun keterkaitannya dengan pembukaan perkebunan kelapa sawit tetap memerlukan verifikasi dan penyelidikan pihak berwenang.
Namun, persoalan karhutla Kalimantan memang menjadi perhatian serius sepanjang 2026. Kementerian Kehutanan mencatat luas kebakaran hingga Juli mencapai sekitar 202.004 hektare, dengan 57 persen berada di kawasan hutan dan 43 persen di area penggunaan lain. Pemerintah juga menyebut fenomena El Niño yang datang lebih cepat turut meningkatkan risiko karhutla.
Data Nusantara Atlas menunjukkan aktivitas titik panas pada 2026 hingga 20 Juli berada di atas periode yang sama pada tahun-tahun sebelumnya. Pemantauan lembaga tersebut mencatat sekitar 103.000 hektare terbakar sepanjang paruh pertama 2026, sementara AFP melaporkan analisis independen Nusantara Atlas memperkirakan luas terbakar hingga Juli telah melampaui 285.000 hektare.
Di tengah meningkatnya ancaman kebakaran hutan Kalimantan, pemerintah juga mengoptimalkan teknologi modifikasi cuaca. Meteorolog Safillah Anggie Wahyuni menjelaskan bahwa metode tersebut bukan menciptakan awan, melainkan memaksimalkan awan yang berpotensi menghasilkan hujan.
“Modifikasi cuaca tidak menciptakan awan. Kami mengoptimalkan awan yang berpotensi menghasilkan hujan,” kata Safillah kepada AFP.
Meski demikian, hujan buatan dipandang sebagai bagian dari penanganan darurat. Pencegahan pembakaran lahan, perlindungan hutan dan gambut, serta penegakan hukum tetap menjadi faktor penting untuk mengendalikan karhutla dan mencegah kabut asap kembali meluas.
