Jakarta, GPriority.co.id – Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menekankan pentingnya konsep ekoteologi sebagai landasan membangun masyarakat yang berkeadaban.
Ia menyebutkan, ada tiga unsur utama yang membentuk keseimbangan kehidupan, yakni manusia, alam, dan Tuhan.
“Berkali-kali saya sampaikan, ekoteologi di internet itu ada segitiga antara man, nature, and God (manusia, alam, dan Tuhan). Segitiga ini harus simetris, harus integratif,” kata Nasaruddin dalam pidatonya pada Lauching Buku Ekoteologi Islam: Konsepsi dan Implementasi di Kementerian Agama, Selasa (7/10).
Menurut dia, ketika berbicara tentang manusia, maka jangan ada sekatan agama. Sebab, kemanusiaan hanya satu, dan tidak memiliki warna.
“Humanity is only one, there is no colors. Kemanusiaan itu hanya satu, tidak ada warnanya. Jangan membedakan kemanusiaan itu karena ada agama,” tegasnya.
Nasaruddin lalu mengutip ayat Al-Qur’an “walaqad karramna bani Adam” sebagai dasar untuk menghormati seluruh anak cucu Adam tanpa memandang latar belakang agama.
“Siapa pun anak cucu Adam, gak usah tanyakan agamanya apa. Kalau lapar, kewajiban kita semuanya untuk memuliakan mereka,” katanya.
Lebih lanjut, Nasaruddin menjelaskan bahwa konsep persaudaraan dalam Islam juga menekankan nilai iman yang bersifat inklusif.
“Agama apa pun, siapa pun yang beriman, itu disebut orang mu’min. Apa itu Al Mu’min? Dari kata aamana; yu’minu aamana. Aamana artinya aman, Al Mu’min artinya orang yang merasa aman. Kenapa merasa aman? Karena dia amanah. Kenapa amanah? Karena dia bertanggung jawab. Jadi aman. Iman. Kenapa dia bertanggung jawab? Karena dia beriman. Jadi orang yang beriman itu pasti aman, pasti amanah, dan pasti diterima,” jelasnya.
Dalam konteks kebijakan publik, Nasaruddin menilai pendekatan berbasis nilai-nilai agama dapat meringankan beban negara, termasuk dalam program makanan bergizi gratis
“Nah, kalau ini semuanya kita mainkan dengan bahasa agama pemerintah, saya kira itu akan sangat mengurangi beban, termasuk memberikan makanan gratis itu. Tidak mesti harus negara yang memberikan makanan gratis, kalau memberdayakan umat,” ucapnya.
Ia menambahkan, Kementerian Agama sebagai lembaga negara memiliki peran penting untuk mendorong sinergi tersebut.
“Di atas itu ada negara yang memberikan perhatian untuk makanan bergizi, di bawah pun juga harus tumbuh di situ. Nah, dari atas-bawah itu pemberdayaan umat. Maka Indonesia itu akan menjadi contoh untuk sebuah masyarakat ideal di masa akan datang,” tuturnya.
Pewarta : Fifi Abdurahman
