Jakarta, GPriority.co.id – Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal Republik Indonesia (Kemeninveshil/BKPM) berkolaborasi dengan Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Kemenko Infra) serta Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menggelar Indonesia International Sustainability Forum (ISF) 2025.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Rosan Roeslani, menyatakan bahwa Indonesia terus berkomitmen terhadap pembangunan berkelanjutan (sustainability).
Menurutnya, dari sisi showcase, Indonesia memiliki banyak potensi, meski dalam implementasinya masih sedikit tertinggal.
“Karena acara ini adalah acara yang sangat luar biasa. Tadi disampaikan, yang terdaftar lebih dari 10 ribu orang. Dan pada acara pembukaan dihadiri hampir 2 ribu orang. Sebagian besar pembicaranya, kurang lebih 38 orang, berasal dari luar negeri, dan sisanya 27 orang dari dalam negeri. Ini juga menunjukkan komitmen Indonesia terhadap sustainability. Oleh sebab itu, disaat bersamaan ini juga showcase kita bahwa kita memiliki banyak potensi, tetapi dari segi implementasi memang masih agak tertinggal,” kata Rosan usai membuka ISF 2025 di JCC, Jumat (10/10).
Rosan menilai ISF 2025 merupakan ajang yang sangat baik, tidak hanya dari sisi peluang (opportunity), tetapi juga dari sisi kebijakan dan regulasi yang perlu terus diperkuat dan direformasi.
Dengan demikian, lanjut dia, dunia luar dapat memahami bahwa kebijakan-kebijakan pemerintah Indonesia semakin terintegrasi dan berkolaborasi antar kementerian, antar lembaga, dan dunia usaha.
“Sehingga memberikan bahwa apa yang ditargetkan dan dikomitmenkan oleh pemerintah Indonesia dalam hal ini misalnya net zero emission pada tahun 2060 itu memang kita memiliki komitmen yang tinggi dan kita menuju ke arah tersebut. Termasuk dalam bidang renewable energy,” tuturnya.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Menko), Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), mengapresiasi terselenggaranya ISF 2025.
Menurut AHY, masa depan Indonesia dan dunia harus semakin berkelanjutan, sejalan dengan visi besar Presiden Prabowo Subianto, yakni ketahanan dan ketersediaan pangan, air bersih, serta energi yang menjadi pilar utama sustainability.
“Bukan hanya kita ingin tumbuh ekonomi, memajukan dan mensejahterakan rakyat, tetapi juga bagaimana menjaga bumi agar tetap lestari untuk anak cucu kita,” ucapnya.
“Dan itu semua membutuhkan sumber daya manusia yang kompetitif, yang siap, serta teknologi dan investasi yang memadai. Karena tidak bisa hanya mengandalkan anggaran pemerintah atau APBN,” tambah AHY.
Di sisi lain, Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Novyan Bakrie mengaku bangga atas kolaborasi yang terjalin antara pemerintah dan dunia usaha. Ia mengutip prediksi Bloomberg bahwa dibutuhkan investasi sebesar 3,9 triliun USD untuk mencapai target net zero emission pada 2060 atau bahkan lebih cepat.
Menurutnya, Indonesia memiliki banyak potensi, baik dari sumber daya mineral kritis di bawah tanah, potensi energi terbarukan di atas tanah, maupun kekayaan biodiversitas yang besar untuk berkiprah di pasar karbon (carbon market).
“Dan sini dihadiri lebih dari 10 ribu orang, pembicara banyak dari luar negeri, melibatkan 15 negara dan berbagai duta besar. Ini menjadi kebanggaan bagi Kadin karena diberi kesempatan bekerja sama dengan pemerintah,” tutur Anindya.
Pewarta : Fifi Abdurahman
