Aksi Petani di Monas Sempat Memanas akibat Polisi Larang Bakar Gabah

Aksi petani di Monas sempat diwarnai kericuhan kecil antara peserta aksi dan aparat kepolisian/Foto Fifi Abdurahman Aksi petani di Monas sempat diwarnai kericuhan kecil antara peserta aksi dan aparat kepolisian/Foto Fifi Abdurahman

Jakarta, GPriority.co.id – Aksi demonstrasi puluhan petani yang tergabung dalam Serikat Petani Indonesia (SPI) di kawasan Monas, Kamis (16/10), sempat diwarnai kericuhan kecil antara peserta aksi dan aparat kepolisian.

Kericuhan terjadi saat aparat melarang massa aksi melakukan teatrikal dengan membakar empat karung gabah kering yang bertuliskan “BERAS IMPOR”.

Para petani datang dengan membawa berbagai atribut seperti poster tuntutan, boneka berbentuk petani, serta empat karung gabah kering. Awalnya, aksi berjalan kondusif. Namun, situasi memanas ketika massa bersikeras ingin melakukan aksi simbolik dengan membakar gabah tersebut.

Aparat kepolisian menolak permintaan itu karena dinilai dapat mengganggu ketertiban dan pengguna jalan di sekitar lokasi.

“Bakar! Bakar! Bakar! Bakar!,” teriak para massa aksi.

“Jangan bakar, jangan bakar ya,” sahut salah satu aparat kepolisian.

Aksi dorong-dorongan dan adu mulut sempat terjadi ketika para petani bersikeras ingin membakar gabah kering tersebut.

Aparat kepolisian yang bertugas mengamankan aksi petani di Monas/Foto Fifi Abdurahman
Aparat kepolisian yang bertugas mengamankan aksi petani di Monas/Foto Fifi Abdurahman

Kapolsek Metro Gambir, Kompol Rezeki R. Respati, kemudian turun langsung untuk menenangkan situasi.

“Ini pengguna jalan terganggu, kalah tidak tertib kita bubarin nanti. Kita sudah melayani Anda. Ini pengguna jalan juga banyak disini, terganggu pengguna jalan. Ini juga masyarakat bukan Anda saja ya, kita menjaga sama-sama. Hak Anda kami jaga, warga masyarakat di jalan juga kami jaga. Tolong sama-sama menjaga,” kata Respati kepada massa aksi.

Tak lama kemudian, situasi kembali kondusif setelah koordinator aksi mengarahkan massa untuk menahan diri. 

Setelah dilakukan dialog dengan pihak kepolisian, disepakati bahwa pembakaran tidak dilakukan. Sebagai gantinya, massa menggelar aksi simbolik dengan menyebarkan gabah kering di lokasi demonstrasi.

Momen petani hamburkan empat karung gabah kering di Monas/Foto Fifi Abdurahman
Momen petani hamburkan empat karung gabah kering di Monas/Foto Fifi Abdurahman

Ketua Pelaksanan Peringatan Hari Pangan Sedunia, Fajar Angga Kusumah mengatakan aksi buang gabah kering yang dilakukan merupakan simbol perlawanan terhadap impor pangan ke Indonesia.

“Pandangan kita terhadap pemerintah Indonesia bahwa impor-impor pangan itu cenderung, walaupun trennya menurun, tapi cenderung masih besar. Dan itu dilakukan pada saat-saat panen-panen raya. Seperti Indramatu sedang panen raya, tiba-tiba pemerintah impor beras berapa juta ton. Nah ini juga salah satu masalah terhadap petani beras kita. Nah untuk itu tadi saya kira karena tidak diperbolehkan membakar gabah kering itu, akhirnya saya menaburkan sebagai simbol bentuk perlawanan terhadap impor pangan ke Indonesia,” pungkasnya.

Pewarta : Fifi Abdurahman