Jakarta, GPriority.co.id – Juru Kampanye Amnesty International Indonesia, Satya Azyumar, menyayangkan rencana pemerintah yang mempertimbangkan pemberian gelar pahlawan nasional kepada Presiden ke-2 RI, Soeharto, bersamaan dengan aktivis buruh Orde Baru, Marsinah.
Satya menilai Marsinah, yang dikenal sebagai buruh pabrik yang memperjuangkan hak-hak pekerja dan menentang penindasan pada masa Orde Baru, tidak pantas disandingkan dengan Soeharto yang disebut sebagai pelaku pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM).
“Yang lebih menyakitkan lagi adalah fakta bahwa salah satu dari 40 nama yang diajukan sebagai pahlawan adalah Marsinah. Bagaimana bisa seorang yang menghabiskan hidupnya untuk melawan penindasan disamaratakan dengan pelaku kejahatan kemanusiaan, dengan pelanggar HAM? Tidak masuk akal,” kata Satya di aksi penolakan rencana pemberian gelar pahlawan kepada Soeharto, di depan Kementerian Kebudayaan, Kamis (6/11).
Ia menyebut rencana tersebut sebagai bentuk pengkhianatan negara yang paling keji terhadap sejarah dan perjuangan korban.
“Ini merupakan bentuk pengkhianatan yang paling keji, pengkhianatan yang paling menjijikan. Dari bagaimana cara kita mengingat sejarah bangsa. Menyedihkan ketika Marsinah disandingkan dengan Soeharto,” tuturnya.
Satya menambahkan, Amnesty International Indonesia bersama Koalisi Masyarakat Sipil akan terus menyuarakan penolakan, meskipun pemerintah tetap meresmikan pemberian gelar tersebut.
Ia menyebut, apabila gelar pahlawan untuk Soeharto benar-benar disahkan, maka negara telah menciptakan kontradiksi moral yang buruk.
“Tentu kita sebagai koalisi masyarakat sipil akan terus merapatkan barisan dengan korban dan keluarga korban khususnya. Karena mereka adalah orang pertama yang menyaksikan secara langsung bagaimana buruknya kejahatan pada rezim Soeharto. Kami akan menguatkan mereka agar tidak patah semangat, dan kemudian mengajak publik seluas-luasnya untuk berdiri dalam satu barisan yang sama dan menolak legitimasi pemberian gelar itu,” pungkasnya.
Sebelumnya, Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon menyatakan bahwa 40 nama tokoh, termasuk Presiden ke-2 RI, Soeharto yang diusulkan Kementerian Sosial (Kemensos), memenuhi syarat untuk dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.
Hal tersebut disampaikan Fadli Zon usai memimpin upacara Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-97 di Museum Sumpah Pemuda, Jakarta, Senin (28/10/2025).
“Jadi kalau secara prosedural dan juga substansial, semua tokoh yang mengusulkan itu sudah memenuhi syarat, termasuk Pak Soeharto,” kata Fadli Zon kepada wartawan.
Daftar 40 Calon Pahlawan Nasional 2025 :
1. KH Muhammad Yusuf Hasyim – Tokoh NU, pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng.
2. Demmatande – Pemimpin perlawanan terhadap penjajah, pendiri Benteng Salu Banga di Paladan (1912).
3. KH Abbas Abdul Jamil – Ulama pendiri NU, penggagas 10 November 1945.
4. Marsinah – Aktivis dan buruh pabrik.
5. Hajjah Rahmah El Yunusiyyah – Penggagas Perguruan Diniyyah Puteri Padang Panjang (1923).
6. Abdoel Moethalib Sangadji – Pendiri Sarekat Islam, penyebar berita kemerdekaan.
7. Jenderal TNI (Purn) Ali Sadikin – Gubernur DKI Jakarta ke-7, tokoh pembangunan nasional.
8. Letkol (Anumerta) Charles Choesj Taulu – Tokoh peristiwa heroik Merah Putih di Manado (1946).
9. Gele Harun – Pejabat Residen Lampung pada masa pendudukan Belanda (1949).
10. Letkol Moch Sroedji – Gugur dalam perang melawan Belanda di Jember (1949).
11. Prof. Dr. Aloei Saboe – Dokter pelopor pemberantasan penyakit menular.
12. Letjen TNI (Purn) Bambang Sugeng – Wakil Jenderal Sudirman, mantan Duta Besar RI.
13. Mahmud Marzuki – Pengibar Merah Putih pertama di Riau, 1945.
14. Letkol TNI (Purn) Teuku Abdul Hamid Azwar – Pejuang kemerdekaan asal Aceh.
15. Dr. FX Seda – Menteri Keuangan era Presiden Soeharto.
16. Andi Makkasau Parenrengi Lawawo – Datu’ Suppa ke-24, penentang kolonialisme.
17. Tuan Rondahaim Saragih – Pejuang Batak melawan Belanda.
18. Marsekal TNI (Purn) R. Suryadi Suryadarma – Kepala Staf AU pertama (1946–1962).
19. KH Wasyid – Pemimpin Pemberontakan Geger Cilegon (1888).
20. Mayjen TNI (Purn) dr. Roebiono Kertopati – Kepala Lembaga Sandi Negara pertama.
21. Syaikhona Muhammad Kholil – Ulama berpengaruh di balik berdirinya NU.
22. KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) – Presiden ke-4 RI.
23. HM Soeharto – Presiden ke-2 RI.
24. KH Bisri Syansuri – Pendiri Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar, Jombang.
25. Sultan Muhammad Salahuddin – Pejuang pengusir Belanda dan Jepang di Bima.
26. Jenderal TNI (Purn) M. Jusuf – Panglima ABRI dan Menhankam era Soeharto.
27. HB Jassin – Sastrawan nasional, “Paus Sastra Indonesia”.
28. Prof Dr Mochtar Kusumaatmadja – Menlu era Soeharto, tokoh hukum laut internasional.
29. Bpk. Ali Sastroamidjojo – Dubes pertama RI untuk AS.
30. dr. Kariadi – Dokter gugur dalam Pertempuran Lima Hari di Semarang.
31. RM Bambang Soeprapto Dipokoesoemo – Pejuang Semarang dan DI/TII.
32. Basoeki Probowinoto – Pendeta GKJ, pendiri Partai Kristen Indonesia.
33. Raden Soeprapto – Perwira TNI gugur dalam G30S 1965.
34. Mochamad Moeffreni Moe’min – Komandan BKR Jakarta Raya.
35. KH Sholeh Iskandar – Ulama tiga zaman: Belanda, Jepang, dan Kemerdekaan.
36. Syekh Sulaiman Ar-Rasuli – Ulama Minangkabau.
37. Zainal Abidin Syah – Gubernur pertama Irian Barat.
38. Prof Dr Gerrit Agustinus Siwabessy – Ahli atom Indonesia.
39. Chatib Sulaiman – Tokoh Pemerintahan Darurat RI di Bukittinggi.
40. Sayyid Idrus Bin Salim Al-Jufri – Ulama pendiri lembaga pendidikan Islam di Sulawesi.
