Pesan Kepala BRIN Pada 5 Profesor Riset Baru: Tetap Jadi Pembelajar Tangguh

Kepala BRIN, Arif Satria/Foto : Dok. GPriority (Nindya Farhah Azzahrah) Kepala BRIN, Arif Satria/Foto : Dok. GPriority (Nindya Farhah Azzahrah)

Jakarta, GPriority.co.id – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) resmi mengukuhkan 5 profesor riset baru resmi pada Selasa (25/11) di Auditorium Sumitro Djojohadikusumo, Gedung B.J. Habibie, Jakarta.

Ditemui wartawan usai memberikan sambutan, Kepala BRIN Arif Satria turut memberikan pesan untuk 5 profesor riset baru tersebut.

“Harapan saya tetap menjadi pembelajar yang tangguh. Meskipun sudah profesor, meskipun sudah sampai puncak tertinggi gelar, tapi yang bisa membuat kita survive bukan gelar tersebut. Yang bisa membuat kita survive adalah mentalitas kita sebagai seorang pembelajar,” tutur Arif.

Menurutnya, kemampuan untuk terus belajar dan beradaptasi sangat dibutuhkan mengingat perubahan saat ini yang begitu cepat.

“Ini belum sampai pada tahap kita menjadi pengendali perubahan dan pemimpin perubahan. Makanya saya harapkan periset-periset itu tetap humble, tetap rendah hati, dan tetap sebagai pembelajar sejati,” sebut Arif.

Saat ini, Arif melaporkan, terdapat 90 profesor riset yang telah dikukuhkan dan sudah melakukan orasi. Ia berharap ke depannya, sebanyak 80 persen profesor riset di Indonesia dapat mengikuti jejak serupa.

“Kita harapkan idelanya bisa 80 persen lah. Tapi kalau yang baru-baru kan nggak bisa langsung (jadi) profesor karena jenjang karier. Tapi jadi profesor juga harus produktif, bukan sekadar gelar saja. Harus produktif dengan karya-karya ilmiah dan inovasi yang baik,” ujarnya.

Sebagai informasi, dari 5 profesor riset yang baru saja dikukuhkan BRIN, 4 diantaranya merupakan kaum perempuan. Adapun 5 profesor riset tersebut diantaranya Ika Kartika (kepakaran logam dan paduan), oleh Murni Handayani (kepakaran nanomaterial fungsional), Maria Holly Herawati (kepakaran penyakit menular), Fitrah Ernawati (kepakaran makanan dan zat gizi mikro), serta Tri Muji Susantoro (kepakaran aplikasi penginderaan jauh untuk eksplorasi energi dan sumber daya mineral).

Menanggapi hal tersebut, Arif menyatakan peran profesor riset baik laki-laki maupun perempuan sama-sama penting, dan diharapkan tidak ada diskriminasi.

“Yang penting tidak ada perlakuan berbasis pada gender. Ya kita equal saja. Laki-laki ataupun perempuan, siapapun yang punya prestasi ya kita hargai. Siapapun yang prestasinya bagus, ya kita kasih penghargaan,” tegasnya.

Di akhir Arif berharap, para profesor riset dapat menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya dan menghasilkan riset yang lebih baik ke depannya, terutama untuk menjawab solusi dari segala persoalan yang terjadi.

“Setiap riset harus tahu ujungnya untuk apa, untuk menjelaskan masalah apa. Jadi saya harap begitu. Inovasinya untuk apa, bukan sekadar kebanggan riset dan publikasi yang banyak. Tapi yang penting adalah manfaatnya. Jadi orientasi banyak manfaat ini yang akan kita tuntut dari pekerjaan profesor riset yang ada di BRIN,” pungkas Arif.