Aksi di Monas, Perempuan Mahardika Layangkan Kartu Merah untuk Prabowo

Puluhan perempuan yang tergabung dalam organisasi Perempuan Mahardika gelar unjuk rasa di Taman Pandang Istana, Monas, Jakarta Pusat, Selasa (25/11)/Foto Fifi Abdurahman Puluhan perempuan yang tergabung dalam organisasi Perempuan Mahardika gelar unjuk rasa di Taman Pandang Istana, Monas, Jakarta Pusat, Selasa (25/11)/Foto Fifi Abdurahman

Jakarta, GPriority.co.id – Puluhan perempuan yang tergabung dalam organisasi Perempuan Mahardika menggelar unjuk rasa di Taman Pandang Istana, Monas, Jakarta Pusat, Selasa (25/11).

Massa aksi membawa sejumlah banner dan poster berisi tuntutan, antara lain “Tolak PSN Merauke”, “Bebaskan Seluruh Tahanan Politik”, “Tolak PSN yang Memiskinkan Perempuan”, “Kami Mau Perubahan Sistem!”, dan berbagai seruan lainnya. Selain itu, mereka juga membawa peluit dan kartu merah sebagai simbol perlawanan.

Sekretaris Nasional Perempuan Mahardika, Ajeng, mengatakan aksi ini digelar untuk memperingati 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan yang berlangsung sejak 25 November hingga 10 Desember.

Ia menjelaskan, kartu merah yang dibawa para peserta aksi merupakan simbol kemarahan terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang dianggap telah melakukan kesalahan besar terhadap perempuan.

“Kami, Perempuan Mahardika, membawa simbol kartu merah sebagai tanda marah. Biasanya, kartu merah dipakai dalam pertandingan untuk menandakan kesalahan besar. Dan ini menandakan kesalahan besar rezim terhadap perempuan,” kata Ajeng saat ditemui di lokasi aksi.

“Seperti yang kalian lihat di banner ini, terlihat bahwa tidak pernah ada kesejahteraan. Terlihat dari data gaji nasional bahwa upah perempuan dibayar sangat murah,” tambahnya.

Ajeng menegaskan bahwa salah satu kesalahan paling fatal dari pemerintahan Prabowo adalah mengabaikan keselamatan dan kesejahteraan perempuan.

“Kesalahan fatal dan paling besar yang dilakukan rezim adalah mengabaikan keselamatan dan kesejahteraan perempuan. Di mana kami dikucilkan, dipinggirkan, bahkan tidak dianggap. Hari ini kami mengatakan pada seluruh dunia, pada semua orang, bahwa telah terjadi banyak kesalahan fatal terhadap perempuan,” tegasnya.

Karena itu, lanjut Ajeng, Perempuan Mahardika menuntut Prabowo untuk segera melakukan perubahan pada sistemnya.

“Kartu merah yang menjadi tanda marah ini adalah ekspresi kami, menuntut agar perubahan sistem segera dilakukan, karena tidak boleh lagi ada kartu merah yang berterbangan akibat kesalahan-kesalahan rezim,” tambahnya