Sulit Tahan BAB? Waspada Alami Inkontinensia Tinja!

Sulit Tahan BAB? Waspada Alami Inkontinensia Tinja! Ini Gejalanya/Foto : Ilustrasi Dok. Freepik Sulit Tahan BAB? Waspada Alami Inkontinensia Tinja! Ini Gejalanya/Foto : Ilustrasi Dok. Freepik

Jakarta, GPriority.co.id – Inkontinensia tinja atau juga biasa disebut inkontinensia usus, adalah kondisi yang terjadi saat seseorang kesulitan mengatur atau mengendalikan kapan harus buang air besar (BAB).

Dilansir dari laman cleveland clinic, feses penderita inkontinensia tinja akan keluar dalam bentuk cair maupun padat secara tiba-tiba. Penyakit ini bisa bersifat ringan jika tinja sedikit keluar saat buang angin. Namun bisa menjadi parah apabila tinja berbentuk padat yang keluar.

Untuk mengatur buang air besar, otot-otot di dasar panggul, rektum, dan anus, harus berfungsi dengan benar agar dapat menahan tinja dan mengeluarkannya di waktu yang tepat. Saraf harus bekerja sama dengan otot-otot tersebut, sehingga tubuh tahu kapan waktunya untuk buang air besar.

Dalam ilmu kedokteran, inkontinensia tinja dibagi menjadi dua jenis.

Pertama, inkontinensia urgensi atau yang paling umum terjadi. Kondisi ini terjadi saat tiba-tiba muncul keinginan untuk buang air besar tetapi tidak dapat dikendalikan, sehingga tidak memungkinkan untuk sampai ke toilet tepat waktu.

Kedua, inkontinensia pasif. Meski rektum (bagian yang menampung tinja) telah meregang semaksimal mungkin untuk menampung tinja, namun tidak ada tanda-tanda ingin buang air besar. Pada kondisi ini, penderitanya akan mengeluarkan tinja tanpa disadari.

Gejala dan penyebab inkontinensia tinja

Meski sebagian orang hanya mengalami masalah ini ketika sedang diare, beberapa gejala dari penyakit inkontinensia tinja antara lain :

– Tinja keluar saat buang angin.
– Tinja keluar tiba-tiba saat sedang beraktivitas fisik.
– Tidak bisa menahan keluarnya tinja meski sudah bergegas ke toilet.
– Menemukan kotoran di dalam celana dalam setelah buang air besar seperti biasa.
– Kehilangan kemampuan untuk mengontrol buang air besar.

Selain diare dan sembelit, penyebab lainnya yang perlu diwaspadai ialah kerusakan otot dan kerusakan saraf. Selain itu ketidakmampuan rektum untuk meregang juga menjadi penyebab lainnya. Begitupun ketika otot panggul melemah dan tidak dapat sepenuhnya menopang organ panggul.

Meski siapapun dapat menderitai penyakit ini, faktor usia dan jenis kelamin cukup berpengaruh. Penyakit ini lebih umum terjadi pada orang di atas 65 tahun. Pasalnya, otot secara alami melemah seiring bertambahnya usia. Selain itu, perempuan juga memiliki risiko lebih besar setelah menjalani persalinan normal atau terapi hormon untuk menopause.

Apabila kondisi ini sering terjadi, menyebabkan tekanan emosional, mempengaruhi aktivitas sehari-hari, hingga mengurangi waktu ada untuk bekerja atau berkumpul dengan keluarga dan teman, sangat disarankan untuk segera berkonsultasi ke dokter.