Akademisi Tolak Penggunaan AI di Dunia Pendidikan: Harus Dibatasi

Ketua PSIK-Indonesia, Yudi Latif usai Seminar Nasional “Desain Ulang Pendidikan Indonesia: Strategi dan Inovasi Menghadapi Gelombang Disrupsi Digital dan AI” di Jakarta Pusat, Rabu (26/11)/Foto Fifi Abdurahman Ketua PSIK-Indonesia, Yudi Latif usai Seminar Nasional “Desain Ulang Pendidikan Indonesia: Strategi dan Inovasi Menghadapi Gelombang Disrupsi Digital dan AI” di Jakarta Pusat, Rabu (26/11)/Foto Fifi Abdurahman

Jakarta, GPriority.co.id – Ketua Pusat Studi Islam dan Kenegaraan-Indonesia (PSIK-Indonesia), Yudi Latif, menolak penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam dunia pendidikan, terutama di kalangan pelajar dan mahasiswa.

Menurutnya, proses berpikir, mencoba, mengoreksi, serta menyusun gagasan tetap harus dibangun oleh peserta didik.

“Kecakapan-kecakapan dasar untuk belajar, menulis, dan menginformasikan tetap harus dibangun. Oleh karena itu, saya selalu ingatkan ketika kita ingin berinteraksi dengan teknologi baru seperti AI, jangan sampai kita kehilangan pijakan pada nilai-nilai peradaban,” kata Yudi dalam Seminar Nasional “Desain Ulang Pendidikan Indonesia: Strategi dan Inovasi Menghadapi Gelombang Disrupsi Digital dan AI” yang di inisiasi oleh Yayasan Rawamangun Mendidik (YRM) di Jakarta Pusat, Rabu (26/11).

Meski begitu, ia mengakui bahwa pelajar dan mahasiswa tidak bisa sepenuhnya dilarang menggunakan AI, karena teknologi tersebut merupakan bagian dari perkembangan zaman. Namun, Yudi menegaskan perlunya pembatasan.

“Jadi misalnya, AI di mana boleh digunakan dan tidak. Menurut saya dibatasi penggunaan AI di ruang-ruang sekolah, karena itu akan mencegat dan mengganggu proses pematangan, proses berpikir mahasiswa. Nanti mahasiswa cenderung jalan pintas. Jadi seharusnya dibatasi,” jelasnya.

Yudi mencontohkan, pelajar dan mahasiswa tidak seharusnya menggunakan AI untuk membuat makalah atau karya ilmiah.

“Jadi kalau misalnya bikin makalah atau karya ilmiah, itu sama sekali tidak boleh menggunakan AI. Jadi harus diatur,” ucapnya.

Namun, untuk bidang kehidupan lain, Yudi menilai penggunaan AI sah-sah saja selama sesuai kebutuhan.

“Tapi dalam bidang-bidang kehidupan, pekerjaan kita ingin cari informasi misalnya market udang galah di mana, ya pakailah AI. Karena itu kan membantu marketing, membantu distribusi,” tuturnya.

“Jadi kita harus pilah-pilah nih di ruang mana kita boleh menggunakan AI dan ruang mana tidak. Supaya masing-masing bisa tumbuh sesuai dengan misi dan hakikat dari bidang-bidang kehidupan,” pungkas Yudi.