Penulis : Dimas A Putra | Editor : Lina F | Foto : istimewa
Jakarta, GPriority.co.id – Perkembangan dunia teknologi kian pesat beberapa tahun terakhir. Salah satu teknologi yang paling bisa dirasakan perkembanganya yakni kecerdasan buatan atau sering di sebut Artificial Intelligence (AI).
Dalam pengertiannya, AI merupakan kemampuan mesin untuk melakukan tugas yang biasanya memerlukan kecerdasan manusia, seperti pemrosesan informasi, pembelajaran, dan pengambilan keputusan.
Dibalik kecerdasannya, ternyata terdapat dampak negatif yang tentunya dapat mengkhawatirkan yaitu mengenai penggantian pekerjaan manusia oleh mesin cerdas.
Disampaikan oleh Anggota Komisi I DPRD Kalimantan Utara (Kaltara) H. Khaeruddin Arief Hidayat, SE., M.Si bahwa peranan diciptakan AI ialah sebagai alat untuk kemudahan manusia dalam berbagai hal seperti pekerjaan.
Namun untuk penggantian posisi pekerjaan manusia dengan kecerdasan buatan, dinilai Arief masih perlu dikaji lebih jauh.
Arief yang dalam hal ini membidangi pemerintahan, hukum dan Ham dalam susunan Komisi DPRD Kaltara itu menyoroti perihal dampak bagi masyarakat yang mulai mengalami pergeseran oleh Kecerdasan Buatan tersebut.
Ia pun menyarankan perlu dibuatkan regulasi khusus mengenai keberadaan kecerdasan buatan, agar kedepannya penggunaan, etika, dan keamanan AI, serta perlindungan terhadap tenaga kerja ini tidak merugikan masyarakat.
“Jadi kecerdasan buatan itu kan, menambah sesuatu pada sebuah sistem ya kita harapkan bahwa, ini dapat memudahkan dalam bekerja, jadi kita tak bisa menolak perkembangan yang bagaimana kita memanfaatkan dengan sebaik-baiknya saja, artinya teknologi yang sudah ada,” ujar Arief saat dihubungi melalui saluran telepon, Jumat (29/9).
Disamping itu, anggota DPRD dari fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) itu mengimbau masyarakat tak perlu khawatir soal pergeseran manusia dengan mesin. Menurutnya, saat ini masih banyak pekerjaan yang membutuhkan tenaga manusia, apalagi yang menyangkut soal tenaga ahli, seperti profesi hukum, dokter, pilot dan masih banyak lainnya.
“Iya tetap kita kedepankan itu (pekerjaan tangan manusia), artinya ini hanya dapat membantu mempermudah proses dalam bekerja di lapangan, bukan malah menggantikan manusia, jelas Arief.
