Aktivis HAM Suciwati Tolak Penulisan Ulang Sejarah Gagasan Fadli Zon: Ini Parade Kebohongan!

Aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) sekaligus Suciwati secara tegas menolak, inisiasi pemerintah terutama Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon untuk menerbitkan buku penulisan ulang sejarah dalam waktu dekat. Foto: GPriority/Dimas A Putra Aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) sekaligus Suciwati secara tegas menolak, inisiasi pemerintah terutama Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon untuk menerbitkan buku penulisan ulang sejarah dalam waktu dekat. Foto: GPriority/Dimas A Putra

Jakarta, GPriority.co.id – Aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) sekaligus Suciwati secara tegas menolak, inisiasi pemerintah terutama Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon untuk menerbitkan buku penulisan ulang sejarah dalam waktu dekat.

Menurut istri Munir Said Thalib itu, upaya ini merupakan parade kebohongan untuk menghilangkan jejak pelanggaran HAM masa lalu.

“Jadi tentu saja ini memang sebuah kemunduran besar ya. Jadi apa yang sudah selama ini diperjuangkan oleh teman-teman, termasuk Almarhum ya waktu itu, menjadi nol kembali. Saya bilang ini parade kebohongan yang terus-terusan dicekokin ke otak kita sebagai masyarakat sipil,” kata Suciwati dalam diskusi publik bertajuk “Kemerdekaan untuk Siapa?” di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Jumat (15/8).

Suciwati menilai, Fadli Zon merupakan seseorang yang lihai memutarbalikan fakta. Ia mengkritisi upaya Fadli Zon yang menyokong para profesor untuk menulis buku tersebut.

“Seolah-olah dia hebat sekali untuk mengubah sejarah. Dan dengan mudahnya dia kemudian membayar orang-orang yang bergelar profesor sejarah atau apapun, dibayarlah untuk kemudian menjual jiwanya untuk kemudian menipu. Bahwa dia kemudian ngomong soal fakta dan keilmuan, tapi semuanya itu bullshit,” kata dia.

Selain itu, peran lembaga seperti Komnas HAM turut menjadi perhatian Suciwati. Kata dia, Komnas HAM sebagai lembaga mandiri yang memiliki wewenang untuk menepis segala upaya pemutarbalikan sejarah seolah-olah tidak punya taji dalam melawan kekuasaan.

“Jadi kamu kok diam aja sebagai lembaga? Selemah itukah kamu? Diinjak-injak dan diam aja. Ya lakukanlah sesuatu untuk menghukum, harus dihukum orang yang mau mempermainkan sejarah Indonesia ini dan dianggap sebagai si perempuan memerkosa, dianggap rumor, itu kurang ajar sekali. Orang yang tidak punya martabat dan serendah-rendahnya manusia buat saya,” tuturnya.

Kemudian, Suciwati mengungkapkan penulisan sejarah ini juga berpotensi untuk menghilangkan stigma penjahat HAM yang diduga dilakukan oleh petinggi negara waktu itu yakni Presiden Suharto yang juga merupakan mantan mertua Presiden Prabowo.

“Dia mau apa, narasi yang dia bangun itu mau apa? sejarah ini mau dipakai untuk apa? Dari dulu kan sudah ngebet, si menantu ini pengen banget membawa mertuanya menjadi palawan. Kan kita terus-menerus ya, masa penjahat HAM dijadikan palawan,” kata dia.

“Jadi dia kemudian melakukan itu dengan membuat sejarah yang penuh kebohongan. Yang kedua, dia memakai buku ini, narasi ini untuk dilegalkan.
Dan ketika dilegalkan, isinya ujian terhadap si Soeharto, maka tentu saja Soeharto akan dapat konfirmasi bahwa oh dia layak (sebagai Pahlawan,red),” tambahnya.

Lebih lanjut, Ia menyatakan jika penulisan sejarah ini dapat menciptakan kemuduran besar hingga degradasi moral yang kian terjun bebas. “Sekali lagi kita itu memang diterus-menerus akan dijejali yang saya bilang tadi parade kebohongan, kepalsuan, dan degradasi moral ini semakin terjun bebas di negeri kita yang tercinta ini,” ucapnya.

Diwartakan sebelumnya, Fadli Zon mengungkapkan buku Sejarah Indonesia edisi terbaru siap diluncurkan pada Oktober 2025. Ia mengatakan penulisan ulang sejarah nasional Indonesia harus dikerjakan oleh sejarawan yang memiliki kompetensi di bidangnya.

“Penulisannya sudah selesai tapi peluncurannya nanti kita harapkan Oktober,” ujar Fadli Zon.