Anthony Sinisuka Ginting, Rocketman Indonesia

Di cabang Bulutangkis, Anthony Sinisuka Ginting merupakan pemain tunggal putra asal Indonesia yang paling ditakuti oleh lawan-lawannya. Ini disebabkan dirinya memiliki kecepatan yang sangat luar biasa. Berkat kecepatannya tersebut, Anthony Sinisuka Ginting dijuluki Rocketman oleh lawan-lawannya.

Kecepatan yang dimiliki oleh Anthony Sinisuka Ginting berasal dari tekunnya dia berlatih sejak kecil. “ Ya sejak kecil, aku selalu diajarkan oleh ayah bermain bulutangkis. Ayah yang berasal dari Karo pun selalu mengingatkan kepada aku bahwa saat bermain kecepatan harus diutamakan sehingga lawan tidak bisa berpikir untuk melakukan strategi agar bisa menaklukkan aku,” jelas Anthony Sinisuka Ginting dikutip dari medsosnya beberapa waktu yang lalu.

“ Dan puji Tuhan, berkat kecepatan tersebut, pada Olimpiade Tokyo 2020, aku berhasil mempersembahkan medali perunggu bagi bangsa Indonesia. Terima kasih Tuhan,” tambah Anthony Ginting begitu ia biasa disapa.

Hmm, pastinya pada penasaran kan untuk mengetahui kisah perjalanan hidupnya. Untuk itu simak kisah selengkapnya di bawah ini.

Anthony Sinisuka Ginting begitulah nama yang diberikan oleh sang ayah Edison Ginting saat istrinya melahirkan bayi laki-laki pada 20 Oktober 1996 di Cimahi, Jawa Barat. Menurut Edison nama Anthony diberikan agar kelak bisa menjadi anak yang sukses, sedangkan nama Sinisuka Ginting diberikan agar anak tersebut tetap ingat dengan kampung halamannya di Kabupaten Karo Provinsi Sumatera Utara meskipun lahir di Provinsi Jawa Barat.

Agar Anthony Ginting ingat dengan kampung halamannya setiap libur lebaran dan natal, sang ayah selalu membawa Ginting kecil pulang ke kampung halamannya di Karo. “ Dan puji Tuhan hingga saat ini dirinya selalu menyempatkan pulang ke kampung halaman bersama saya dan mamaknya,” jelas Edison.

Terkait dengan olahraga bulutangkis yang digelutinya sehingga mengantarkan Anthony Ginting sebagai orang sukses dan mampu meraih medali perunggu Olimpiade Tokyo. Edison mengatakan berawal dari seringnya dirinya mengajak Anthony Ginting menonton pertandingan bulutangkis di kantornya.” Saat bermain bulutangkis di kantor, aku selalu mengajak Anthony Ginting ke sana. Karena seringnya melihat aku bermain, Anthony Ginting yang saat itu berusia 5 tahun pun tertarik mengikuti jejakku. Aku melihat ketertarikan dia saat bermain bulutangkis dengan teman-temannya meskipun masih asal-asalan,” jelas Edison.

Edison yang melihat bakat anaknya, segera melatihnya. Tak hanya latihan, Edison selalu memberikan wejangan kepada Anthony Ginting agar mengandalkan kecepatan saat bermain bulutangkis.” Sebab dengan kecepatan, lawan tidak akan mampu berpikir untuk menerapkan strategi saat pertandingan bulutangkis,” begitu pesan Edison kepada Anthony Ginting setiap usai latihan.

Merasa anaknya bisa berkembang sebagai atlet bulutangkis, Edison pun memasukkan Anthony Ginting yang berusia 7 tahun ke sebuah klub bulutangkis ternama di Bandung yakni SGS. Bersama klub yang pernah dihuni Taufik Hidayat, bakat dan kecepatan yang dimiliki oleh Anthony Ginting semakin terasah. Hasilnya ia berhasil memenangkan berbagai gelar seperti kejuaraan daerah antar klub Bandung dan Milo School Competition kategori tunggal putra pada tahun 2008. Prestasi yang diraihnya juga tidak surut, saat menginjakkan kaki di bangku Sekolah Menengah Pertama. Mewakili klub tersebut, Anthony Ginting sukses meraih kembali juara Milo School Competition kategori tunggal putra pada tahun 2012.

SGS pun menawari Anthony Ginting masuk ke dalam klub senior sebagai pemain tunggal putra. Mendapat tawaran yang menggiurkan, Anthony Ginting langsung berdiskusi dengan sang ayah. Sang ayah pun mengizinkan karena yakin Anthony Ginting bisa meraih kesuksesan seperti pemain pujaannya Taufik Hidayat.

Setelah mendapat restu dari klub lama dan ayahnya, Anthony Ginting pada tahun 2013 resmi bergabung dengan SGS sebagai pemain profesional. Debut sebagai pemain profesional tidak membuat Anthony Ginting demam panggung, buktinya dia mampu meladeni perlawanan para pemain yang lebih senior darinya meskipun selalu kalah di partai final.

Kekalahan tidak membuat Anthony Ginting kecewa, justru menjadi cambuk pelecut, untuk tampil bagus. Hasilnya dia dilirik oleh Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) untuk bergabung di Timnas Bulutangkis Junior untuk tampil di kejuaraan dunia junior pada tahun 2014 yang di gelar di Alor Setar. Tampil sebagai pemain andalan, Anthony Ginting berhasil meraih medali perunggu untuk kategori tunggal putra dan medali perak untuk kategori beregu.

Kesuksesan Ginting berlanjut pada Olimpiade remaja yang digelar di Nanjing. Dirinya berhasil meraih medali perunggu. Medali emas diraihnya pada gelaran Sea Games 2015 di Singapura dan 2019 di Filipina dalam nomor beregu putra. Emas pun kembali diraih Anthony Ginting pada saat gelaran Kejuaraan Bulutangkis Asia. Tak tanggung-tanggung, Anthony Ginting dan kawan-kawan menciptakan hatrik dalam kejuaraan beregu Asia tersebut yakni (2016,2018 dan 2020). Untuk Asian Games yang digelar di Jakarta-Palembang pada tahun 2018 dirinya hanya mampu meraih medali perak untuk beregu putra dan Perunggu untuk tunggal putra. Di Piala Thomas, Perak (2016) dan Perunggu (2018) dia persembahkan bagi Indonesia . Medali perunggu pun dia dapatkan kembali saat ajang piala Sudirman. Dan terakhir dirinya mampu medali perunggu pada ajang Olimpiade Tokyo 2020 dengan mengalahkan pemain asal Guatemala Kevin Gordon dengan dua set langsung (21-11) dan (21-13).

Berkat prestasi yang diraihnya tersebut, Anthony Ginting mendapat nominasi penghargaan dari BWF tahun 2018, memenangkan penghargaan atlet individual putra terfavorit dari Indonesia Sport Award di tahun yang sama dan ditempatkan sebagai 30 besar pemain olahraga terbaik Indonesia versi Forbes.

Biodata:
Nama: Anthony Sinisuka Ginting
Tempat/Tanggal lahir: Cimahi, 20 Oktober 1996
Nama Orang Tua : Edison Ginting (ayah) dan Lucia Sriati (ibu)
Pegangan raket: Tangan kanan
Tinggi : 1,71 meter.
Pelatih : Hendri Saputra Ho

Prestasi :
1. Juara Milo School Competition kategori tunggal putra pada tahun 2008
2. Juara Milo School Competition kategori tunggal putra pada tahun 2012.
3. Medali Perunggu pada Kejuaraan Dunia Junior 2014 tunggal putra dan perak untuk kategori beregu.
4. Medali Perunggu Olimpiade Remaja tahun 2014 tunggal putra.
5. Medali Emas beregu putra pada Sea Games 2015 dan Sea Games 2019.
6. Medali Emas beregu putra pada Kejuaraan Bulutangkis Asia 2016,2018 dan 2020.
7. Medali Perak pada piala Thomas 2016 dan Perunggu pada Piala Thomas 2018.
8.Medali Perak pada beregu putra dan Perunggu pada tunggal putra di Asian Games 2018.
9.Perunggu di Piala Sudirman.
10.Perunggu di Piala Thomas.

Penghargaan
1. Nominasi BWF Awards tahun 2018
2. Memenangkan penghargaan Atlet Individual Putra terfavorit pada Indonesia Sport Award 2018
3. Ditempatkan sebagai 30 besar pemain olahraga terbaik Indonesia versi Forbes pada 2019. (Hs.Foto.dok.pribadi)

 

 

Related posts