Bebas Berekspresi di Medsos Tanpa Melanggar Hak Asasi Orang Lain

Sigi,Gpriority-Belakangan ini banyak sekali muatan muatan media sosial yang mengandung unsur negatif bahkan cenderung melanggar hak asasi orang lain. Hal ini tentu saja mengundang keprihatinan Kementerian Komunikasi dan informatika (Kominfo).

Berbekal alasan itulah maka pada Rangkaian Program Literasi Digital “Indonesia Makin Cakap Digital” di Sulawesi, yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia dan Siber Kreasi bersama Dyandra Promosindo pada 22 Juli di Sigi Sulawesi secara virtual membahas mengenai hal tersebut.

Dalam acara yang mengangkat tema “Aman dan Nyaman dalam Bermedia Sosial” sejumlah narasumber dihadirkan seperti pegiat literasi digital perempuan, Lynvia Gunde; Kepala Divisi Kebebasan Berekspresi SAFENet, Nenden Sekar Arum; Selebgram, Aisyah Nirwana; dan aktivis literasi, Mohamad Isnaeni Muhidin. Adapun bertindak sebagai moderator adalah Ratih Aulia. Kegiatan yang dihadiri oleh empat narasumber ini diikuti oleh 439 peserta. Rangkaian Program Literasi Digital “Indonesia Makin Cakap Digital” di Sulawesi menargetkan 57.550 orang peserta.

Pemateri pertama adalah Lynvia Gunde yang membawakan tema “Positif, Kreatif, dan Aman di Internet”. Lynvia mengatakan, bagi sebagian orang, media sosial merupakan tempat aktualisasi dan berekspresi. Namun, penggunaannya harus santun dan ramah . “Gunakan bahasa yang baik agar tidak memicu salah paham; hargai orang lain; periksa kebenaran berita; tidak mengunggah kiriman menyinggung SARA, pornografi, dan kekerasan; serta jangan terlalu sering mengunggah kiriman,” saran Lynvia.

Berikutnya, Nenden Sekar Arum menyampaikan materi berjudul “Bebas tapi Gak Bebas?”. Dia menjelaskan, internet merupakan dunia yang tidak terbatas ruang dan waktu. Namun, internet dan media sosial harus menjadi tempat yang aman untuk semua. “Hindari konten yang membuat orang lain merasa tidak nyaman. Jangan sampai kebebasan berekspresi kita malah melanggar hak asasi orang lain,” tegasnya.

Sebagai pemateri ketiga, Aisyah Nirwana membawakan tema “Penggunaan Bahasa yang Baik dan Benar di Dunia Maya”. Menurut Aisyah, ketidakpahaman menggunakan bahasa dalam media sosial dipengaruhi budaya, bahasa, serapan bahasa asing, serta keterbatasan karakter atau kata yang bisa diunggah di media sosial sehingga acapkali harus disingkat. “Inilah yang menjadi penyebab ketidaksesuaian dengan kaidah tata bahasa yang benar,” ungkapnya.

Adapun Mohamad Isnaeni Muhidin, sebagai pemateri terakhir, menyampaikan tema “Rekam Jejak Digital dan Makna Kesadaran Personal”. Dia mengatakan, saat berselancar di dunia maya, secara sadar atau tidak, kita pasti meninggalkan jejak digital. Contoh jejak yang disadari adalah saat mengunggah konten, data diri, dan menandai lokasi. Sedangkan yang tidak disadari, misalnya saat melakukan pencarian di mesin pencari atau menonton video di internet. “Dari jejak digital ini bisa dilihat semua yang sudah kita lakukan di media sosial, jadi harus hati-hati,” pesan Isnaeni.

Setelah pemaparan materi oleh semua narasumber, kegiatan tersebut dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang dipandu moderator. Terlihat antusias dari para peserta yang mengirimkan banyak pertanyaan kepada para narasumber. Panitia memberikan uang elektronik senilai Rp100.000 bagi 10 penanya terpilih.

Program Literasi Digital ini mendapat apresiasi dan dukungan dari banyak pihak karena menyajikan konten dan informasi yang baru, unik, dan mengedukasi para peserta. Kegiatan ini disambut positif oleh masyarakat Sulawesi.

Program Literasi Digital “Indonesia Makin Cakap Digital” di Sulawesi akan diselenggarakan secara virtual mulai dari Mei 2021 hingga Desember 2021 dengan berbagai konten menarik dan materi yang informatif yang disampaikan narasumber terpercaya. Bagi masyarakat yang ingin mengikuti sesi webinar selanjutnya, informasi bisa diakses melalui https://www.siberkreasi.id dan akun sosial media @Kemenkominfo dan @siberkreasi, serta @siberkreasisulawesi khusus untuk wilayah Sulawesi.(Hs.Foto.dok.Dyandrapromosindo)

Related posts