Penulis: Aflaha Rizal Bahtiar | Editor: Lina F | Foto: Unsplash.com
Jakarta, GPriority.co.id— Bayi tabung merupakan kehamilan yang diawali dengan sel telur dibuahi oleh sel sperma di luar tubuh. Pembuahan ini dilakukan di dalam sebuah tabung.
Dikutip dari Halodoc, prosedur ini dilakukan bila kehamilan tidak terwujud meski sudah mencoba berbagai cara, mulai dari mengonsumsi obat-obatan dan melakukan operasi ataau inseminasi buatan.
Mengenai program bayi tabung, berapa persen keberhasilan dan kegagalannya? Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi RS Abdi Waluyo dr. Harianto Wijaya mengungkapkan bayi tabung merupakan masalah yang kompleks, bisa dari di suami atau istri.
“Kompleks, ada masalah di suami-istri, masalah anatomi, kualitas telur dan sperma, jadi secara umum angka keberhasilan tergantung di usia,” ungkapnya kepada Gpriority, Selasa (19/9), di RS Abdi Waluyo, Jakarta.
“Kalau semakin mudah pasien pasangan, tentunya keberhasilan akan meninggi daripada pasangan dengan usia lebih dari 40 memakai teknologi bayi tabung,” ungkapnya lebih lanjut.
Menurutnya, keberhasilan program bayi tabung diklaim sebesar di atas 50 persen. Tentunya, ia menegaskan faktor berhasilnya dari usia.“Kalau untuk kegagalan, ini semua upaya. Jadi kita harus berdoa,” ucap dr. Harianto lebih lanjut.
Secara singkat, tata cara program bayi tabung digambarkan sel telur wanita bertemu dengan sel sperma laki-laki di luar tubuh.
“Telur dari wanita ditarik keluar dari badan, dipertemukan dengan sperma di bawah mikroskop, lalu menjadi embrio. Di hari ketiga dan kelima dimasukkan ke dalam rahim. Singkatnya seperti itu,” ujarnya.
“Untuk risikonya dibilang kecil sekali,” tutupnya.
