Bersihkan Diri dengan Berzakat

Zakat merupakan salah satu rukun islam yang wajib tunaikan oleh umat muslim. Dengan membayar zakat banyak manfaat yang bisa dirasakan, salah satunya dapat membersihkan dan mengikis akhlak yang buruk.

Seperti dijelaskan firman Allah dalam Al-Qur’an yang berbunyi:”Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS At-Taubah ayat 103).

Pada bulan Ramadan ini ada yang dikenal dengan zakat fitrah. Dikutip dari laman Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), zakat fitrah adalah zakat yang diwajibkan atas setiap jiwa baik lelaki dan perempuan muslim yang dilakukan pada bulan Ramadan pada Idul Fitri.

Sebagaimana hadist Ibnu Umar ra. “Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum atas umat muslim; baik hamba sahaya maupun merdeka, laki-laki maupun perempuan, kecil maupun besar. Beliau saw memerintahkannya dilaksanakan sebelum orang-orang keluar untuk shalat.” (HR Bukhari Muslim).

Selain untuk mensucikan diri setelah menunaikan ibadah di bulan Ramadan, zakat fitrah juga dapat dimaknai sebagai bentuk kepedulian terhadap orang yang kurang mampu.

Besaran zakat fitrah adalah beras atau makanan pokok seberat 2,5 kg atau 3,5 liter per jiwa. Para ulama, diantaranya Shaikh Yusuf Qardawi telah membolehkan zakat fitrah ditunaikan dalam bentuk uang yang setara dengan 1 sha’ gandum, kurma atau beras. Nominal zakat fitrah yang ditunaikan dalam bentuk uang, menyesuaikan dengan harga beras yang dikonsumsi.

Adapun waktu yang dianjurkan untuk membayar zakat fitrah adalah saat sebelum shalat Idul Fitri ditunaikan. Jika lewat dari waktu itu maka pembayaran zakat fitrah hukumnya menjadi makruh dan haram.

Selain zakat fitrah yang ditunaikan pada saat bulan Ramadan, ada juga zakat maal (harta) yang dapat tunaikan di hari-hari biasa jika sudah mencapai nisab atau haulnya.

Sebagai contoh, zakat maal terdiri atas simpanan kekayaan seperti uang, emas, surat berharga, penghasilan profesi, aset perdagangan, hasil barang tambang atau hasil laut, hasil sewa aset dan lain sebagainya. Setiap jenis penghasilan umat Islam tersebut dihitung dengan cara tersendiri.

Berdasarkan Undang-Undang No. 38 Tahun 1998 Tentang Pengelolaan Zakat, pengertian zakat maal adalah sejumlah harta seorang muslim atau organisasi milik muslim yang disisihkan kepada orang yang membutuhkan sesuai ketentuan syariat Islam.

Adapun syarat harta yang terkena kewajiban zakat maal diantaranya kepemilikan penuh, harta yang diperoleh secara halal, harta yang dapat berkembang atau diproduktifkan (dimanfaatkan), mencukupi nisha, bebas dari hutang, mencapai haul, atau dapat ditunaikan saat panen. (Dwi)

Related posts