BNPB: Banjarnegara dan Cilacap Jadi Daerah Paling Rawan Longsor dalam Satu Dekade Terakhir

Proses pengerukan pada titik longsor yang telah diasesmen dan diduga terdapat korban yang tertimbun material longsor Desa Cibeunying, Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap, pada Sabtu (15/11). Foto: dok.BNPB Proses pengerukan pada titik longsor yang telah diasesmen dan diduga terdapat korban yang tertimbun material longsor Desa Cibeunying, Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap, pada Sabtu (15/11). Foto: dok.BNPB

Jakarta, GPriority.co.id – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menetapkan Banjarnegara dan Cilacap sebagai dua wilayah dengan korban longsor tertinggi di Jawa Tengah sepanjang sepuluh tahun terakhir.

Kepala Pusat Data dan Informasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengatakan bahwa bencana longsor di Jawa Tengah sebagian besar terjadi pada wilayah tengah hingga selatan provinsi, dan karakteristiknya cenderung berulang bila kualitas lingkungan tidak diperbaiki.

“Tingkat kerawanan longsor tidak berubah tanpa perbaikan lingkungan. Kalau historisnya pernah terjadi, kemungkinan akan terulang lagi seperti yang saat ini terjadi,” ujarnya.

Menurut data BNPB periode 2015–2024 memperlihatkan Banjarnegara berada di peringkat pertama dengan 13.351 warga mengungsi dan 330 korban meninggal akibat longsor. Menyusul di posisi kedua, Cilacap mencatat 9.547 pengungsi dan 276 korban meninggal. Kabupaten lain yang juga memiliki tingkat kerawanan tinggi antara lain Magelang, Wonosobo, dan Purbalingga.

Abdul menuturkan longsor umumnya terjadi pada kawasan perbukitan dengan struktur tanah gembur dan porositas tinggi. Ketika hujan deras berlangsung lama, kondisi tanah menjadi tidak stabil sehingga mudah runtuh. Pola ini turut terlihat pada kejadian di Desa Cibeunying, Majenang, Cilacap, Jumat (14/11), yang menghancurkan area hingga satu kilometer dari titik longsoran.

Hingga Senin malam, dari 23 warga yang dilaporkan hilang, 16 ditemukan meninggal dunia sementara tujuh lainnya masih dicari tim gabungan. Abdul mengingatkan masyarakat agar memperhatikan tanda-tanda awal longsor seperti retakan pada lereng dan pohon yang mulai miring, serta menekankan pentingnya sistem peringatan dini berbasis teknologi untuk meminimalkan korban.

“Upaya pencegahan hanya dapat dilakukan melalui penguatan vegetasi, penataan ruang, dan kesadaran masyarakat terhadap kondisi geografis setempat,” kata dia.