BRIN Cari Anak Muda dengan IQ di Atas 120  untuk Tinggal di Luar Angkasa

BRIN tengah mencari anak muda Indonesia yang memiliki tingkat kecerdasan atau IQ 120 ke atas untuk tinggal di luar angkasa/Foto : Dok. BRIN BRIN tengah mencari anak muda Indonesia yang memiliki tingkat kecerdasan atau IQ 120 ke atas untuk tinggal di luar angkasa/Foto : Dok. BRIN

Jakarta, GPriority.co.id – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah memperkuat pencarian dan pembinaan talenta muda di bidang sains, teknologi, serta antariksa, dengan mencari anak muda Indonesia yang memiliki tingkat kecerdasan atau IQ 120 ke atas.

Nantinya, talenta muda tersebut dipersiapkan menjadi ahli nukri dan antariksa yang diproyeksikan mampu tinggal di luar angkasa. Inisiatif ini disampaikan dalam acara Science Festival Indonesia 2026 yang diadakan BRIN saat bekerja sama dengan perusahaan nuklir asal Rusia, Rosatom.

Wakil Kepala BRIN Amarulla Octavian menjelaskan bahwa pencarian talenta muda dengan IQ 120+ ini bertujuan mendidik mereka menjadi ilmuwan kelas dunia di bidang sains nuklir dan antariksa.

Program ini merupakan langkah jangka panjang untuk mengikuti tren global negara-negara maju yang mulai mempersiapkan peradaban dan eksplorasi jangka panjang di luar bumi, mengingat teknologi nuklir memiliki potensi besar untuk pasokan energi serta propulsi wahana antariksa.

Upaya tersebut dilakukan melalui berbagai program pengembangan talenta, termasuk Indonesia Research and Innovation Fair (IRIFair) 2026 Aerospace Talent School yang digelar di Kawasan Sains dan Teknologi (KST) B.J. Habibie, Serpong, Tangerang Selatan.

Kepala Pusat Riset Teknologi Satelit BRIN Wahyudi Hasbi mengatakan generasi muda perlu memahami tantangan masa depan antariksa, termasuk kebutuhan Indonesia untuk memiliki kemampuan teknologi satelit secara mandiri.

Menurut Wahyudi, kebutuhan tersebut berkaitan dengan kondisi geografis Indonesia yang luas serta tingginya potensi bencana. Teknologi satelit dinilai memiliki peran penting dalam mendukung komunikasi, terutama ketika jaringan komunikasi di darat mengalami gangguan akibat bencana.

Selain pengembangan teknologi satelit, BRIN juga menyoroti persoalan kepadatan objek buatan manusia di orbit Bumi. Kondisi tersebut membuat pengelolaan ruang angkasa secara bertanggung jawab semakin penting.

Dalam kegiatan bersama pelajar tersebut, Wahyudi mengajak generasi muda untuk mengenal lebih jauh bidang teknologi antariksa dan tantangan yang akan dihadapi Indonesia pada masa mendatang.

Penguatan talenta antariksa ini menjadi bagian dari agenda yang lebih luas dalam pengembangan sumber daya manusia bidang riset dan inovasi. Bappenas bersama BRIN dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) juga tengah membangun ekosistem manajemen talenta nasional.

Kepala BRIN Arif Satria mengatakan pengembangan talenta harus dilakukan sebagai proses jangka panjang, mulai dari menemukan potensi hingga memberikan kesempatan bagi talenta tersebut untuk menghasilkan karya.

“Talenta riset tidak lahir secara instan. Potensi perlu ditemukan sejak dini, kemudian diberi ruang untuk tumbuh melalui pembinaan, pengalaman riset, pendampingan, jejaring, dan akses terhadap ekosistem yang mendukung,” ujar Arif dalam Puncak IRIFair 2026.

Arif juga mengajak generasi muda untuk berani mengembangkan gagasan baru. Menurutnya, Indonesia perlu membangun pola pikir yang mendorong inovasi agar mampu menjadi negara maju.

“Kalau kita ingin menjadi leader, maka kita harus fokus pada hal-hal baru,” kata Arif dalam acara Puncak IRIFair 2026 di Jakarta.

Dengan penguatan program talenta tersebut, generasi muda diharapkan tidak hanya menjadi pengguna teknologi antariksa, tetapi juga dapat berkembang menjadi peneliti, insinyur, dan inovator yang berkontribusi terhadap pengembangan teknologi luar angkasa Indonesia.