BRIN Ungkap Air Hujan di Jakarta Terkontaminasi Mikroplastik, Bahaya bagi Kesehatan

Hujan guyur Jakarta hari ini/Foto Istimewa

Jakarta, GPriority.co.id – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan bahwa air hujan di Jakarta mengandung partikel mikroplastik yang berpotensi membahayakan kesehatan.

Peneliti BRIN, Muhammad Reza Cordova, menjelaskan bahwa temuan tersebut berasal dari penelitian yang dilakukan sejak tahun 2022. Dalam riset itu, tim BRIN mengumpulkan sampel air hujan setiap bulan selama satu tahun penuh di wilayah DKI Jakarta.

“Jadi ini publikasinya dipublikasikan tahun 2022 sebenarnya, dan kemudian setelah itu kita melihat bahwa setelah pengambilan sampel per bulan selama 12 bulan, kami mendapatkan data bahwa mikroplastik itu ditemukan di Jakarta,” kata Reza pada Media Breafing Isu Mikroplastik dalam Air Hujan dan Fenomena Panas Ekstrem di Balai Kota, Jumat (24/10).

Ia menambahkan, penelitian hanya dilakukan di Jakarta karena saat itu masih masa pandemi, sehingga tidak memungkinkan untuk melakukan pengambilan sampel di daerah lain.

Dari hasil penelitian, BRIN menemukan bahwa jumlah mikroplastik yang jatuh ke daratan bersama air hujan di Jakarta berkisar antara 3 hingga 40 partikel per meter persegi per hari.

“Nah, memang terdapat korelasi antara curah hujan dengan mikroplastik. Kenapa? Karena mikroplastik itu akan dibersihkan dalam tanda petik oleh air hujan. Dan pada saat itulah air hujan itu terkontaminasi oleh plastik,” tuturnya.

Menurut Reza, mikroplastik di udara berasal dari berbagai aktivitas manusia, terutama dari serat pakaian, penggunaan plastik sekali pakai, dan pembakaran terbuka.

“Nah, sumbernya dari mana saja? Yang pertama dari pakaian. Nah, kemudian yang kedua adalah dari penggunaan plastik sekali pakai. Kemudian, pembakaran secara terbuka. Ketika pembakaran secara terbuka itu dilakukan dan masif, hampir setiap hari, apalagi sekarang, mikroplastik itu akan lebih cepat kemungkinan terbang ke udara,” jelas Reza.

Ia menambahkan, pembakaran plastik juga menghasilkan zat berbahaya lain seperti dioksin dan furan yang diketahui dapat memicu penyakit kanker.

Lebih lanjut, Reza menjelaskan bahwa partikel mikroplastik bersifat hidrofobik, mirip dengan spons cuci piring. Bedanya, jika spons menyerap air, mikroplastik justru menjadi tempat menempel berbagai polutan di udara yang kemudian dapat masuk ke tubuh manusia.

“Jadi ada kemungkinan masuk ke dalam tubuh. Jadi memang dampaknya adalah agak sedikit berat nih. Pertama mungkin iritasi. Kita bisa bersin-bersin. Kemudian bisa jadi sekarang hanya masalah flu, tapi flu itu bisa jadi menempel pada partikel mikroplastik tersebut,” ungkap Reza.

Jika terus terpapar, kata Reza, mikroplastik berukuran sangat kecil bahkan bisa masuk ke aliran darah dan memengaruhi fungsi jantung.

“Kalau itu sudah terjadi, bisa jadi nanti ada efek peradangan, walaupun nanti tingkatannya bisa berbeda, bahkan kalau misalnya mikroplastiknya semakin lama semakin kecil, katakanlah bisa lebih kecil dari 50 mikron, yang memang lebih kecil dari ukuran debu atau bahkan lebih kecil dari ukuran bakteri dan seukuran virus, dia bisa masuk ke dalam saluran darah. Kalau itu terjadi, yang terjadi adalah bisa masuk ke jantung dan akhirnya bisa mengganggu ke sana. Memang indikasinya itu ke arah sana semua,” ucapnya