Jakarta, GPriority.co.id – Sebuah penelitian baru dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menemukan bahwa air hujan di Jakarta mengandung partikel mikroplastik berbahaya yang dihasilkan oleh aktivitas manusia di kota tersebut.
Menurut peneliti BRIN, Muhammad Reza Cordova, yang menyampaikan temuan tersebut dalam sebuah pernyataan pada hari Kamis, penelitian yang dilakukan sejak tahun 2022 telah mendeteksi mikroplastik dalam setiap sampel air hujan yang diambil dari ibu kota.
Partikel-partikel ini terbentuk dari penguraian sampah plastik di udara yang disebabkan oleh aktivitas perkotaan sehari-hari, sebagaimana dilansir dari laporan ANTARA pada Minggu (19/10).
“Mikroplastik ini berasal dari serat sintetis pada pakaian, debu dan ban kendaraan, pembakaran sampah plastik, dan plastik yang terdegradasi di ruang terbuka,” kata Reza.
Ia menjelaskan bahwa sebagian besar partikel yang ditemukan adalah pecahan plastik kecil dan serat sintetis yang terbuat dari polimer seperti poliester, nilon, polietilena, polipropilena, dan polibutadiena, yang terakhir umumnya ditemukan pada ban kendaraan.
Rata-rata, para peneliti mencatat sekitar 15 partikel mikroplastik per meter persegi per hari dalam sampel hujan dari wilayah pesisir Jakarta. Reza mengingatkan bahwa temuan ini mengkhawatirkan, karena partikel-partikel ini sangat kecil, bahkan lebih halus dari debu biasa, sehingga dapat dengan mudah terhirup atau masuk ke tubuh manusia melalui air dan makanan.
Sementara itu, disaat cuaca sedang tidak menentu saat ini, Badan Meterologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya mencatat bahwa Indonesia saat ini sedang menghadapi panas ekstrem, dengan suhu baru-baru ini mencapai 37,6°C dan rata-rata sekitar 35°C setiap hari. Gelombang panas ini diperkirakan akan berlangsung hingga awal November 2025.
Menurut BMKG, beberapa wilayah terdampak paling parah oleh gelombang panas ini, terutama wilayah Indonesia bagian selatan dan barat. Kota-kota seperti Palembang, Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, dan Surabaya semuanya mencatat suhu yang jauh lebih tinggi dari biasanya dalam beberapa minggu terakhir.
BMKG mencatat bahwa lonjakan suhu ini berkaitan dengan posisi matahari yang saat ini hampir tepat di atas Indonesia, ditambah dengan musim kemarau yang sedang berlangsung dan langit cerah yang memungkinkan sinar matahari langsung menyinari tanpa banyak “filter”.
Dalam pernyataan resmi di situs web BMKG, Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, mengingatkan masyarakat untuk tidak meremehkan risiko panas ekstrem ini. Beliau juga menyarankan masyarakat untuk menghindari paparan sinar matahari langsung antara pukul 10.00 dan 16.00, saat radiasi matahari sedang berada di puncaknya.
Oleh karena itu, beliau mengimbau semua orang untuk melindungi diri dengan mengenakan topi, kacamata hitam, payung, dan tabir surya saat beraktivitas di luar ruangan. Selain itu, pastikan untuk minum banyak air agar tetap terhidrasi dan tubuh tetap sejuk.
