Jakarta, GPriority.co.id – Secara tegas, Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli mengaku tak mau beberkan data PHK terkini. Keputusan ini dilakukannya untuk mencegah masyarakat pesimis.
Menurutnya, merilis data PHK terkini justru hanya akan memberi efek psikologis negatif yang bukan hanya akan dirasakan masyarakat, namun juga dunia usaha di Tanah Air.
Yassierli meyakini jika masyarakat justru lebih butuh semangat optimisme, dibandingkan dengan paparan data angka yang justru dapat memicu kepanikan.
Yassierli juga mengatakan, kalaupun data PHK disebarkan, maka harus dari satu pintu, yaitu bersumber dari BPJS Ketenagakerjaan. Hal ini untuk menghindari simpang siur.
Kini Pemerintah Indonesia lebih memilih untuk menciptakan narasi penciptaan lapangan kerja, daripada paparan data PHK. Dalam pernyataannya, Yassierli menyebut jika salah satu program prioritas Presiden Prabowo seperti Koperasi Merah Putih misalnya, menargetkan penyerapan hingga jutaan tenaga kerja.
Langkah ini menjadi strategi Pemerintah Indonesia untuk lebih menguatkan ketahanan kerja nasional, dengan melakukan sinergi antar lintas kementerian serta pemberdayaan lokal.
Sebagai informasi, data yang dihimpun dari dinas daerah dan BPJS Ketenagakerjaan melaporkan jika hingga awal Juni 2025, total pekerja yang terkena PHK mencapai lebih dari 30 ribu orang. Jumlah ini meningkat dari sekitar 26 ribu pada Mei lalu.
Kendati demikian, Pusat Data dan Informasi Kemnaker kini masih melakukan sinkronisasi data dengan BPJS Ketenagakerjaan, untuk merinci data PHK lebih lanjut.
“Data (PHK) sudah ada. Tapi kita saat ini sedang berkoordinasi dengan Kementerian Koperasi dan lain sebagainya. Jadi ini yang justru harus diviralkan,” tegas Yassierli.
Foto : Dok. Kementerian Ketenagakerjaan
