Cuaca Berubah Mendadak Bisa Picu Migrain Parah, Ini Penjelasannya

Ilustrasi penderita migrain/Foto : Dok. Unsplash Ilustrasi penderita migrain/Foto : Dok. Unsplash

Jakarta, GPriority.co.id – Belakangan ini sering terjadi fenomena cuaca yang berubah mendadak, terlebih di luar musim hujan.

Perubahan cuaca yang terjadi secara tiba-tiba ternyata tidak hanya memengaruhi aktivitas harian, tetapi juga dapat memicu serangan migrain yang lebih intens pada sebagian orang.

Menurut sejumlah penelitian neurologi yang dikutip berbagai media kesehatan internasional, perubahan tekanan udara atau tekanan barometrik menjadi salah satu faktor utama yang menghubungkan cuaca dengan serangan migrain.

Sekitar 30 hingga 50 persen penderita migrain mengaku perubahan cuaca merupakan pemicu paling sering yang mereka alami.

Ahli saraf Danielle Wilhour menjelaskan bahwa ketika sistem badai mulai mendekat, tekanan udara di atmosfer biasanya menurun. Kondisi tersebut diduga memengaruhi tekanan di dalam kepala serta cara pembuluh darah di otak melebar dan menyempit.

“Beberapa ilmuwan percaya perubahan ini dapat memengaruhi tekanan di dalam kepala atau cara pembuluh darah di otak melebar dan menyempit,” ujar Wilhour dikutip dari Scientific American.

Ia juga menambahkan bahwa perubahan tekanan atmosfer dapat menciptakan ketidakseimbangan kecil antara tekanan di dalam tengkorak dan lingkungan sekitar. Ketidakseimbangan tersebut berpotensi merangsang saraf yang sensitif terhadap rasa sakit sehingga memicu peradangan dan akhirnya menyebabkan migrain.

Selain tekanan udara, suhu yang berubah drastis dalam waktu singkat juga menjadi faktor risiko. Hari yang sangat panas, sangat dingin, atau perubahan kelembapan yang cepat dapat mengganggu keseimbangan tubuh dan meningkatkan kemungkinan munculnya migrain.

Spesialis sakit kepala dari Cleveland Clinic, Dr. Emad Estemalik, menegaskan bahwa cuaca merupakan faktor penting dalam munculnya migrain, terutama saat pergantian musim.

“Cuaca adalah faktor yang sangat penting ketika berbicara tentang kemunculan migrain, terutama saat perubahan musim,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa perubahan tekanan barometrik yang signifikan dapat memengaruhi sinus dan memicu serangan migrain pada individu yang sensitif.

Penelitian terbaru juga menunjukkan bahwa gelombang panas, badai, polusi udara, dan kelembapan tinggi dapat memperburuk kondisi penderita migrain.

Faktor-faktor tersebut memicu peradangan, stres pada sistem saraf, hingga dehidrasi yang menurunkan ambang tubuh terhadap rasa sakit.

Para ahli menyarankan penderita migrain untuk mencatat pola cuaca dan gejala yang muncul. Dengan mengenali hubungan antara perubahan cuaca dan serangan migrain, penderita dapat melakukan langkah pencegahan lebih dini, seperti menjaga hidrasi, mengatur waktu istirahat, dan berkonsultasi dengan dokter untuk terapi yang sesuai.