Jakarta, GPriority.co.id – Dr. Gia Pratama menyatakan sikap optimistisnya terkait kebijakan pelabelan nutrisi atau Nutri Grade dapat membantu masyarakat Indonesia lebih sadar terhadap risiko obesitas dan memilih makanan yang lebih sehat.
Hal itu disampaikannya usai menghadiri talkshow kampanye pencegahan dan pengendalian obesitas dalam rangka World Obesity Day 2026 yang digelar di Aula Siwabessy, Kementerian Kesehatan, Kamis (7/5).
Lebih lanjut, dr. Gia menilai sistem label nutrisi dengan kategori nilai seperti A, B, C, hingga D akan mempermudah masyarakat memahami kualitas makanan dan minuman yang dikonsumsi sehari-hari.
“Kalau di sekolah semua orang ingin nilainya A, maka makanan juga seharusnya begitu. Kita tentu ingin lebih banyak mengonsumsi makanan dengan nilai A karena itu lebih baik untuk kesehatan,” ujar dr. Gia.
Menurutnya, edukasi melalui label nutrisi menjadi langkah penting untuk menekan peningkatan angka obesitas dan penyakit tidak menular di Indonesia. Ia menyoroti kenaikan kasus diabetes dan gagal ginjal yang terus membebani sistem kesehatan nasional.
“Apakah kita mau angka diabetes terus naik? Apakah kita mau angka gagal ginjal terus meningkat? Semua biaya pengobatan itu pada akhirnya ditanggung bersama. Karena itu, kita harus menjaga kesehatan agar semakin sedikit masyarakat yang jatuh sakit,” katanya.
Dr. Gia menjelaskan obesitas menjadi salah satu faktor utama yang memicu berbagai penyakit kronis, termasuk diabetes, hipertensi, hingga gangguan ginjal. Karena itu, ia mendukung langkah pemerintah menghadirkan sistem informasi nutrisi yang lebih sederhana dan mudah dipahami masyarakat.
Selain pola makan, dr. Gia juga menekankan pentingnya aktivitas fisik secara rutin di tengah kesibukan masyarakat perkotaan. Ia menilai olahraga tidak harus selalu dilakukan dengan cara yang rumit atau membutuhkan waktu panjang.
“Olahraga terbaik adalah olahraga yang benar-benar dilakukan, bukan hanya direncanakan. Banyak orang merasa tidak punya waktu olahraga karena pekerjaan, padahal justru dengan olahraga produktivitas kerja bisa meningkat,” ujarnya.
Menurut dr. Gia, olahraga ringan namun konsisten tetap memberikan manfaat besar bagi kesehatan tubuh dan mental. Aktivitas sederhana seperti berjalan kaki, naik tangga, atau bergerak aktif setiap hari dinilai lebih baik dibanding tidak berolahraga sama sekali.
Ia juga mengingatkan pentingnya peran keluarga dalam membangun kebiasaan hidup sehat, terutama bagi anak-anak. Orang tua disebut harus menjadi contoh langsung dalam memilih makanan sehat di rumah.
“Anak-anak akan meniru kebiasaan orang tuanya. Kalau ibunya makan sehat, anaknya kemungkinan besar juga akan makan sehat. Jadi perubahan gaya hidup itu dimulai dari keluarga,” katanya.
Dalam kesempatan itu, dr. Gia turut menyinggung pola diet yang sering disalahpahami masyarakat. Ia menegaskan diet sehat bukan berarti tidak makan, melainkan mengatur defisit kalori dengan tetap memperhatikan kandungan nutrisi.
“Banyak makanan tinggi kalori tetapi minim vitamin dan mineral, contohnya gorengan. Itu yang harus mulai dikurangi. Diet bukan soal menyiksa diri, tetapi bagaimana kita mengatur pola makan dengan benar,” jelasnya.
Di akhir, dr. Gia berharap kampanye pencegahan obesitas dapat menjadi gerakan bersama yang melibatkan masyarakat luas, mulai dari keluarga, sekolah, hingga lingkungan kerja. Dengan meningkatnya kesadaran hidup sehat, ia optimistis angka obesitas di Indonesia dapat ditekan dan kualitas kesehatan masyarakat semakin membaik.
