Fenomena Lazy Ambitious: Menggebu-Gebu Di Awal, Tapi Tak Pernah Terealisasi

Ilustrasi Gen Z lazy ambitious/Foto : Dok. Adobe Stock Ilustrasi Gen Z lazy ambitious/Foto : Dok. Adobe Stock

Jakarta, GPriority.co.id – Fenomena “Lazy Ambitious” kembali menjadi bahan obrolan di media sosial, khususnya di kalangan Gen Z dan pekerja muda.

Istilah ini menggambarkan seseorang yang selalu menggebu-gebu di awal, tetapi tak pernah terealisasi. Ia sering kesulitan mengambil tindakan secara konsisten untuk mewujudkannya.

Meski terdengar kontradiktif, sejumlah pakar dan pengamat produktivitas menilai fenomena tersebut bukan sekadar kemalasan.

Sebaliknya, kondisi itu sering berkaitan dengan tekanan psikologis, perfeksionisme, hingga kelelahan mental akibat tuntutan produktivitas yang berlebihan.

Dalam sejumlah kajian psikologi yang membahas tren “lazy but ambitious”, individu dengan karakteristik ini umumnya memiliki visi besar, gemar merencanakan masa depan, dan percaya mampu mencapai kesuksesan.

Namun pada saat yang sama, mereka kerap terjebak dalam penundaan pekerjaan (procrastination), terlalu banyak berpikir, atau kehilangan konsistensi saat menjalankan rencana.

Penulis dan pemerhati produktivitas Tal menjelaskan bahwa fenomena tersebut sering kali disalahartikan sebagai kurangnya disiplin.

“Banyak orang cerdas, terdidik, dan kreatif diam-diam menderita kontradiksi yang menyakitkan: mereka merasa sangat ambisius, tetapi kesulitan mengambil tindakan secara konsisten,” tulisnya dikutip dari laporan WION.

Ia menambahkan bahwa pola tersebut “sering salah diberi label sebagai kemalasan atau kurang disiplin, padahal kenyataannya jauh lebih kompleks.”

Di sisi lain, muncul pula pandangan bahwa istilah “lazy ambitious” mencerminkan perubahan cara generasi muda memaknai kesuksesan.

Jika generasi sebelumnya mengaitkan ambisi dengan jam kerja panjang dan budaya kerja tanpa henti (hustle culture), banyak pekerja muda kini lebih mengutamakan keseimbangan hidup, fleksibilitas, dan kesehatan mental.

Gen Z Ogah Terlalu Berambisi?

Sementara itu, Morgan Sanner, pakar karier Generasi Z dari Glassdoor, menilai anak muda saat ini tidak menolak ambisi, melainkan mendefinisikannya ulang agar lebih berkelanjutan. Menurutnya, jalur karier tidak lagi harus selalu mengikuti pola tangga karier tradisional yang kaku.

Meski demikian, para ahli mengingatkan bahwa ambisi tanpa tindakan tetap berisiko menghambat perkembangan diri. Langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten dinilai lebih efektif dibandingkan membuat target besar tanpa eksekusi nyata.

Fenomena “lazy ambitious” pada akhirnya menjadi cerminan dilema generasi modern: keinginan untuk meraih kesuksesan tetap tinggi, tetapi ada kesadaran yang semakin besar bahwa produktivitas tidak harus dibayar dengan kelelahan dan hilangnya keseimbangan hidup.

Tantangan terbesar bukan mengurangi ambisi, melainkan menemukan cara yang sehat dan berkelanjutan untuk mewujudkannya.