Fenomena Sugar Daddy Dibalik Banyaknya Wanita Mandiri di Indonesia

Fenomena Sugar Daddy Dibalik Banyaknya Wanita Mandiri di Indonesia Fenomena Sugar Daddy Dibalik Banyaknya Wanita Mandiri di Indonesia

Jakarta, GPriority.co.id – Belakangan ini topik wanita mandiri sedang mencuat di kalangan masyarakat Indonesia.

Persoalan ini ramai dibahas usai Prilly Latuconsina memberikan pernyataan bahwa wanita independen banyak di Indonesia, namun kekurangan pria mapan.

Wanita dianggap independen ketika sudah bisa memenuhi biaya kehidupannya sendiri.

Sedangkan pria disebut mapan ketika mereka bisa membiaya kehidupannya sendiri dan keluarganya.  

Namun dibalik itu, di Indonesia ternyata fenomena sugar daddy meningkat, bahkan menempati urutan kedua sebagai negara dengan jumlah sugar daddy terbanyak.

Bagi anda yang belum tahu, sugar daddy merupakan istilah bagi pria dewasa yang kaya.

Mereka biasanya menjalin hubungan dengan perempuan yang lebih muda, dan para sugar daddy akan memenuhi segala kebutuhan dari perempuan tersebut.

Perempuan yang lebih mudah ini juga biasanya disebut dengan istilah sugar baby.

Lalu, apa penyebab sugar daddy melonjak di Indonesia?

Dilansir dari Seeking Arrangement, biasanya negara yang terdapat banyak sugar daddy disebabkan karena faktor ketimpangan ekonomi yang tinggi serta biaya pendidikan yang mahal.

Jika dilihat dari Gini Ratio, Indonesia berada di angka 0,379 per Maret 2024, yang menunjukkan jika ketimpangan ekonomi masih tinggi di tanah air.

Sedangkan untuk biaya pendidikan, di tingkat Perguruan Tinggi biayanya bisa hampir dua kali lipat dari biaya pendidikan jenjang SMA atau sederajat.

Standar Hidup Mewah Jadi Penyebab Banyak Perempuan Cari Sugar Daddy

Disisi lain, penyebab maraknya sugar daddy di Indonesia juga disebabkan karena standar hidup yang mewah. Terlebih karena mengikuti gaya hidup di media sosial.

Alhasil, bagi perempuan yang ingin mengikuti standar hidup mewah namun dengan cara instan, mencari sugar daddy menjadi salah satu pilihannya.

Padahal, fenomena sugar daddy maupun sugar baby dinilai merupakan bentuk prostitusi, menurut Triyono Lukmantoro, Dosen Fisip di Universitas Diponegoro.

Foto : Ilustrasi / Adobe Stock