Forum Dialog Perfilman Inklusif Dorong Praktik Inklusi Dalam Industri Film Indonesia

Forum Dialog Perfilman Inklusif dorong praktik inklusi untuk penyandang disabilitas dalam industri film Indonesia/Foto : Dok. GPriority (Nindya Farhah Azzahrah) Forum Dialog Perfilman Inklusif dorong praktik inklusi untuk penyandang disabilitas dalam industri film Indonesia/Foto : Dok. GPriority (Nindya Farhah Azzahrah)

Jakarta, GPriority.co.id – Komisi Filantropi Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) bekerja sama dengan Komunitas Cinta Film Indonesia (KCFI) serta Inklusi Film Indonesia menyelenggarakan Forum Dialog Perfilman Inklusif pada Selasa (21/10).

Berlangsung di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, forum ini menjadi ruang kolaboratif yang mempertemukan pelaku perfilman, pembuat kebijakan, komunitas disabilitas, dan masyarakat umum untuk bersama-sama mendorong kebijakan serta praktik inklusi dalam industri film Indonesia.

Selain itu, forum ini juga mendukung visi “Jakarta Kota Cinema” yang berkeadilan dan berperikemanusiaan. Forum ini bukan hanya berbicara tentang karya, tetapi juga tentang empati, kesempatan, dan keberpihakan terhadap sesama, terutama bagi penyandang disabilitas yang memiliki potensi besar di dunia perfilman, dengan berlandaskan semangat filantropis gerakan kepedulian sosial melalui seni dan film sebagai medium kemanusiaan.

“Penyandang disabilitas memiliki hal yang sama untuk berkreasi, berpartisipasi, dan menikmati hasil karya seni. Dalam konteks perfilman, keterlibatan disabilitas bukan sekadar bentuk representasi tetapi juga sumber inspirasi dan perspektif baru yang memperkaya sinema Indonesia,” ujar Mariska Febriyani, Anggota Komisi Filantropi Dewan Kesenian Jakarta dalam sambutannya.

Sementara itu, Imam Hadipurnomo selaku Sekretaris Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta yang mewakili Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno menekankan jika inklusif dalam perfilman sangatlah penting dan harus terus didorong.

“Forum ini turut mendorong terbentuknya jejaring kerja sama kolaboratif antara komunitas film, aktivis disabilitas, akademisi, pemerintah, dan media. Kehadiran berbagai unsur ini menujukkan semangat kolaborasi lintas sektor dalam mewujudkan perfilman yang ramah disabilitas,” sebutnya.

Forum tersebut juga turut dihadiri oleh Yessy Gusman selaku Komisaris Utama Produksi Film Negara (PFN), serta para penyandang disabilitas. Oleh karena itu, terdapat pula 4 juru bahasa isyarat untuk memudahkan para penyandang disabilitas memahami isi diskusi yang disampaikan.

“Hari ini menghadirkan 4 JBI (Juru Bicara Isyarat). Tidak mudah menghadirkan JBI, karena dari sisi jumlah mereka dan juga effort yang yang dilakukan teman-teman JBI. Dua JBI untuk teman-teman disabilitas dan dua JBI lainnya sengaja disediakan untuk narasumber,” ujar Dr. Dante Rigmalia, M.Pd salah satu narasumber dalam forum diskusi tersebut yang juga merupakan Ketua Komisi Nasional Disabilitas (KND).

Dante menjelaskan, berdasarkan UU No. 8 Tahun 2016 tentang penyandang disabilitas menyatakan tentang hak berekspresi, berkomunikasi, dan memperoleh informasi dari penyandang disabilitas.

“Hak ini sangat fundamental untuk bisa dipenuhi dan harus dipenuhi oleh kita semua. Kenapa? karena seringkali tidak ada informasi yang memadai kemudian bagaimana untuk mengekspresikan dan mengkomunikasikan kepada penyandang disabilitas terkait pengetahuan dan pemahaman itu seringkali banyak yang masih belum paham cara menyampaikannya,” jelas Dante.