Banyuwangi, GPriority.co.id – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai memberikan tekanan serius bagi pelaku usaha kecil di berbagai daerah.
Di Banyuwangi, Jawa Timur, sejumlah pengusaha tahu dilaporkan mulai gulung tikar setelah biaya produksi terus meningkat akibat melonjaknya harga kedelai impor yang menjadi bahan baku utama, sebagaimana dilansir dari laporan Kompas.
Kondisi ini terjadi seiring melemahnya rupiah yang sempat menyentuh level Rp17.861 per dolar AS. Dampaknya langsung dirasakan oleh perajin tahu yang selama ini sangat bergantung pada pasokan kedelai impor.
Dalam kurun sekitar lima bulan terakhir, harga kedelai impor mengalami kenaikan signifikan, dari kisaran Rp8.500 menjadi Rp10.500 per kilogram.
Kenaikan harga bahan baku tersebut membuat biaya produksi membengkak. Di sisi lain, para pengusaha mengaku sulit menaikkan harga jual karena daya beli masyarakat masih relatif terbatas.
Akibatnya, banyak pelaku usaha harus mencari cara agar tetap bertahan di tengah tekanan biaya yang terus meningkat.
Salah satu langkah yang paling banyak dilakukan adalah mengurangi ukuran tahu tanpa mengubah harga jual. Strategi ini dipilih untuk menjaga pelanggan tetap membeli produk mereka.
Namun, upaya tersebut dinilai hanya menjadi solusi sementara karena keuntungan yang diperoleh semakin menipis.
Tidak hanya harga kedelai yang melonjak, pelaku usaha juga menghadapi kenaikan biaya operasional lainnya, termasuk tarif listrik yang turut menambah beban produksi.
Kombinasi kenaikan bahan baku dan biaya energi membuat sejumlah pengusaha kesulitan mempertahankan usahanya.
Salah satu pelaku usaha menyebut kondisi saat ini jauh lebih berat dibanding beberapa tahun sebelumnya. Margin keuntungan yang semakin kecil membuat sebagian perajin akhirnya memilih menghentikan produksi karena tidak lagi mampu menutupi biaya operasional harian.
“(Dolar naik) dampaknya besar sekali. Harga kedelai dalam lima bulan terakhir ini sudah naik Rp2.000 per kg, harga bahan baku Naik. Tapi tidak mungkin saya naikkan harga jual. Paling bisanya mengecilkan ukuran tahu. Hanya usaha saya yang masih berjalan sampai sekarang,” ujar Nurul Hakim, pemilik usaha ‘House of Tofu’ di Banyuwangi, dikutip dari laporan Kompas melalui postingan Instagram @nowdots.
Fenomena ini menunjukkan tingginya ketergantungan industri tahu nasional terhadap kedelai impor. Indonesia diketahui masih mengimpor sekitar 2,2 hingga 2,6 juta ton kedelai setiap tahun.
Hampir 90 persen pasokan tersebut berasal dari Amerika Serikat. Ketika nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar AS, harga kedelai impor otomatis meningkat dan langsung berdampak pada biaya produksi di tingkat pengusaha.
Jika pelemahan rupiah berlanjut dan harga kedelai terus meningkat, bukan tidak mungkin lebih banyak lagi pengusaha tahu di Banyuwangi maupun daerah lain yang terpaksa menutup usahanya.
Situasi ini berpotensi memengaruhi lapangan kerja sekaligus pasokan salah satu bahan pangan yang banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia.
