Jakarta, GPriority.co.id – Rencana pemerintah membagikan kompor listrik atau kompor induksi gratis kepada masyarakat mulai 2027 kembali memunculkan perbincangan mengenai kelebihan dan kelemahan perangkat tersebut dibandingkan kompor gas tradisional.
Program konversi kompor LPG ke kompor listrik disiapkan sebagai bagian dari upaya mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG sekaligus mendorong penggunaan energi listrik di sektor rumah tangga.
Namun, sebelum program dijalankan secara luas, masyarakat perlu memahami perbedaan karakteristik kompor listrik dan kompor gas yang selama ini menjadi alat memasak utama di banyak rumah.
Dihimpun dari berbagai sumber, kompor listrik, khususnya jenis induksi, memiliki sejumlah keunggulan. Teknologi induksi menggunakan medan elektromagnetik untuk memanaskan peralatan masak secara langsung.
Proses tersebut membuat panas lebih cepat tersalurkan ke panci atau wajan dan mengurangi energi yang terbuang ke lingkungan. Kompor induksi juga dinilai lebih efisien dibandingkan kompor listrik konvensional maupun kompor gas.
Keunggulan lain adalah aspek keamanan. Kompor induksi tidak menggunakan api terbuka sehingga risiko kebakaran akibat nyala api dapat ditekan. Permukaan kompor juga tidak menghasilkan panas secara langsung seperti kompor gas. Setelah panci diangkat, proses pemanasan berhenti sehingga risiko luka bakar dapat dikurangi.
Selain itu, permukaan kompor listrik yang rata dan terbuat dari kaca atau keramik lebih mudah dibersihkan. Pengguna tidak perlu membongkar tungku maupun membersihkan sisa pembakaran seperti pada kompor gas.
Meski demikian, kompor listrik juga memiliki sejumlah kelemahan. Perangkat tersebut bergantung pada pasokan listrik sehingga tidak dapat digunakan ketika terjadi pemadaman. Kondisi ini dapat menjadi kendala bagi masyarakat di daerah yang masih mengalami gangguan pasokan listrik.
Kompor induksi juga membutuhkan peralatan masak yang kompatibel. Panci atau wajan harus memiliki bahan yang dapat merespons medan magnet. Peralatan berbahan aluminium, tembaga, atau kaca pada umumnya tidak dapat digunakan tanpa lapisan khusus.
Kebutuhan daya listrik menjadi persoalan lain yang perlu diperhatikan. Penggunaan kompor listrik berdaya tinggi dapat meningkatkan beban listrik rumah tangga. Karena itu, pemerintah perlu memastikan kapasitas daya, instalasi listrik, dan jaringan di wilayah penerima telah memadai.
Di sisi lain, kompor gas tradisional masih memiliki keunggulan karena dapat digunakan saat listrik padam, lebih mudah menampilkan tingkat panas melalui besar kecilnya api, serta cocok untuk teknik memasak yang membutuhkan nyala api langsung. Biaya pembelian dan perawatannya juga relatif terjangkau.
Namun, kompor gas memiliki risiko kebocoran, kebakaran, dan ledakan apabila tabung, selang, atau regulator tidak dipasang dengan benar. Proses penggantian tabung juga menjadi pekerjaan tambahan bagi pengguna.
Dengan demikian, pembagian kompor listrik gratis pada 2027 berpotensi memberikan manfaat dari sisi efisiensi energi, keamanan, dan kemudahan penggunaan.
Namun, keberhasilan program akan bergantung pada kesiapan infrastruktur listrik, kecocokan peralatan masak, serta edukasi kepada masyarakat mengenai cara penggunaan kompor listrik secara aman dan efisien.
