Jakarta, GPriority.co.id – Endometriosis menjadi perhatian publik setelah sejumlah figur perempuan, termasuk model internasional Barbara Palvin dan kreator konten TikTok Indonesia Kak Jill, dikabarkan menjalani operasi untuk menangani penyakit tersebut.
Kondisi ini bukan sekadar nyeri menstruasi biasa, melainkan gangguan kronis yang dapat memengaruhi kesehatan reproduksi dan kualitas hidup perempuan.
Lantas, apa itu operasi endometriosis, bagaimana penyebabnya, dan apakah penyakit ini bisa dicegah?
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), endometriosis merupakan kondisi ketika jaringan yang menyerupai lapisan dalam rahim (endometrium) tumbuh di luar rahim. Pertumbuhan jaringan tersebut dapat memicu peradangan, jaringan parut, hingga perlengketan pada organ di sekitarnya.
WHO memperkirakan sekitar 10 persen perempuan usia reproduksi atau sekitar 190 juta orang di seluruh dunia mengalami endometriosis. Gejalanya meliputi nyeri menstruasi hebat, perdarahan berlebihan, nyeri panggul kronis, nyeri saat berhubungan seksual, hingga kesulitan memperoleh keturunan.
Apa Itu Operasi Endometriosis?
Operasi endometriosis merupakan tindakan medis untuk mengangkat atau menghilangkan jaringan endometriosis yang tumbuh di luar rahim. Salah satu metode yang umum digunakan adalah laparoskopi atau operasi lubang kunci, yakni prosedur menggunakan kamera dan instrumen khusus melalui sayatan kecil di perut.
Operasi biasanya dipertimbangkan apabila pengobatan lain tidak memberikan hasil memadai, gejala sangat berat, terdapat kista endometriosis, atau penyakit memengaruhi kesuburan. Namun, tidak semua penderita membutuhkan operasi karena penanganan juga dapat dilakukan melalui obat pereda nyeri dan terapi hormon.
Model asal Hungaria, Barbara Palvin, pernah mengungkapkan perjuangannya menghadapi endometriosis pada Agustus 2025. Ia mengaku bertahun-tahun mengalami kelelahan, nyeri, menstruasi berat dan tidak teratur, hingga sulit tidur.
“I thought this was just how it works for me,” ungkap Barbara dalam unggahan Instagramnya. Setelah berkonsultasi dengan spesialis, ia menjalani operasi dan mengaku merasakan menstruasi yang lebih ringan setelah tindakan tersebut.
Apa Penyebab Endometriosis dan Bisakah Dicegah?
Hingga kini, penyebab pasti endometriosis belum diketahui. Sejumlah teori mengaitkannya dengan menstruasi retrograd, faktor genetik, serta gangguan sistem kekebalan tubuh. Risiko juga dapat meningkat apabila ibu atau saudara perempuan memiliki riwayat endometriosis.
Sayangnya, belum ada cara yang terbukti dapat mencegah endometriosis sepenuhnya. Meski demikian, perempuan dianjurkan mengenali pola menstruasi, tidak mengabaikan nyeri berlebihan, menjaga kesehatan tubuh, serta berkonsultasi dengan dokter spesialis obstetri dan ginekologi apabila mengalami gejala mencurigakan.
Deteksi dan penanganan lebih awal penting untuk mengendalikan gejala serta mengurangi dampak jangka panjang. Nyeri haid yang sampai mengganggu aktivitas sehari-hari bukan kondisi yang seharusnya terus dianggap normal.
