Jakarta, GPriority.co.id – Presiden Prabowo Subianto menerima laporan Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero) Bobby Rasyidin mengenai rencana pembangunan layanan kereta api atau trem listrik di Bali.
Proyek transportasi massal yang menghubungkan Bandara I Gusti Ngurah Rai hingga kawasan Canggu tersebut diperkirakan membutuhkan anggaran lebih dari Rp2 triliun. Pembahasan berlangsung dalam pertemuan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (5/11).
Bobby mengatakan, pengembangan kereta Bali menjadi salah satu agenda yang disampaikan kepada Presiden, selain rencana revitalisasi Stasiun Gambir di Jakarta.
“Kami sampaikan program pembangunan untuk kereta di Bali. Layanan kereta api di Bali, fase satunya adalah dari Ngurah Rai ke utara, ke Kuta, Legian, kemudian Seminyak, dan ujungnya di Canggu,” kata Bobby seusai pertemuan, dikutip dari ANTARA, Kamis (5/11).
Bobby menjelaskan, pembangunan layanan kereta Bali direncanakan berlangsung dalam dua tahap. Fase pertama menghubungkan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai dengan kawasan Legian. Sementara fase kedua akan melanjutkan jalur dari Legian menuju Canggu.
“Kereta Bali atau trem Bali itu ada dua tahapan juga, tahapan pertama, fase satu itu dari Ngurah Rai ke Legian, kemudian fase dua itu dari Legian ke Canggu, itu memakan waktu dua tahun,” ujarnya.
Untuk merealisasikan proyek tersebut, KAI memperkirakan kebutuhan anggaran mencapai lebih dari Rp2 triliun. Angka tersebut disampaikan Bobby setelah melakukan pertemuan dengan Prabowo di Istana Kepresidenan.
“Kami sampaikan anggaran yang untuk kereta Bali itu sekitar dua triliun lebih,” ucapnya.
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyampaikan bahwa Presiden Prabowo memberikan arahan untuk memulai pembangunan layanan kereta api di Bali. Jalur awal direncanakan menghubungkan Bandara I Gusti Ngurah Rai dengan sejumlah kawasan wisata, mulai dari Kuta, Legian, Seminyak hingga Canggu.
Sebelumnya, pada 1 September 2026, Pemprov Bali, Pemkab Badung, dan KAI telah menandatangani kesepakatan pengembangan transportasi massal trem listrik berbasis baterai. Jalur yang direncanakan sepanjang 12 kilometer tersebut ditujukan untuk membantu mengatasi kemacetan sekaligus mendukung sektor pariwisata.
Gubernur Bali Wayan Koster menyebut proyek tersebut diharapkan memberikan manfaat bagi wisatawan maupun masyarakat setempat.
“Kenyamanan wisatawan harus tetap dijaga, keberadaan trem justru diharapkan dapat menjadi daya tarik baru bagi pariwisata Bali,” kata Koster.
Ia juga menegaskan pentingnya menjaga karakter dan lingkungan Bali dalam pengembangan infrastruktur.
“Pengembangan transportasi harus tetap memperhatikan keunikan Bali, menjaga keindahan Bali, mendukung pariwisata, dan tidak mengganggu kehidupan masyarakat,” ujarnya.
Dengan rencana tersebut, pembangunan kereta Bali diharapkan menjadi bagian dari pengembangan transportasi massal yang lebih terintegrasi, sekaligus mendukung mobilitas masyarakat dan pariwisata di Pulau Dewata.
