Penulis : Teguh Waskito, Mantan Pekerja Media, kini Konsultan Komunikasi dan EO
Pemimpin dituntut untuk berkomitmen dan berdedikasi atas apa yang dipimpinnya. Demikian halnya dalam memimpin keredaksian.
Malang melintang dalam bidang jurnalistik membuat saya memahami bagaimana tugas seorang pemimpin redaksi yang begitu kompleks. Pernah menjalani sebagai awak media di surat kabar harian yang setiap harinya diharuskan mobile mencari berita, bekerja di majalah dwi mingguan hingga bulanan yang membutuhkan perencanaan keredaksian yang matang, hingga di era kekinian yang serba digital dan cepat menulis, mengedit dan mengatur konten redaksi.
Jika ditotal, sudah hampir 20 tahun saya berkecimpung dalam pekerjaan di bidang media sejak lulus dari kampus penghasil pekerja media di bilangan Lenteng Agung. Dalam kurun waktu itu juga pernah mengalami jenjang sebagai Reporter, Fotografer, Editor serta Redaktur Pelaksana. Tak jarang dalam satu pekerjaan pun menyambi menulis buku atau sebagai penulis freelance di media lainnya. Soal yang ini, sampai-sampai orang tua menjuluki saya kebanyakan ‘dapur.’
Julukan itu bukan tanpa sebab, selain karena sering nyambi, saya juga kerap pindah-pindah tempat bekerja. Urusan menyambi memang sah-sah aja selama tidak mengganggu pekerjaan utama. Namun jika tidak kuat, fisik dan pikiran juga akan terkuras. Pekerjaan kreatif ini memang mengharuskan kita kuat ‘melek mata’ dan pikiran jernih. Kalau tidak kuat, Rumah Sakit pun siap menanti. Saya pernah harus bed rest hampir sebulan lamanya karena tifus. Akibatnya semua pekerjaan keredaksian pun terbengkalai. Beberapa teman yang biasa nyambi pekerjaan bahkan terpaksa pindah alam akibat serangan jantung karena pola hidup yang tak teratur sebagai pekerja media.
Seiring berjalannya waktu dan usia yang tak lagi muda, militansi mengejar materi kini menjadi nomor sekian dalam prinsip hidup saya. Seperti air yang mengalir dari hulu ke hilir, ya ikuti saja proses hidup ini. Jargon, dunia semakin dikejar semakin menjauh ada benarnya. Petuah William Arthur Ward, rasa syukur dapat mengubah hari-hari biasa menjadi ucapan syukur, mengubah pekerjaan rutin menjadi kegembiraan, dan mengubah kesempatan biasa menjadi berkah, kini cukup dilakoni.
Singkatnya, pengalaman harusnya menjadikan pribadi seseorang lebih matang dan rendah hati bukan sebaliknya menjadi lebih jumawa. Orang bijak mengatakan, menjadi orang yang berilmu itu penting. Namun, menjadi orang yang beradab jauh lebih penting. Tak ada ilmu yang didapat tanpa adab yang mendahuluinya. Demikian halnya bagi kita yang berkecimpung dalam bidang media, khususnya bagi pucuk pimpinan media. Adanya sertifikasi jangan membuat kita menjadi sombong dan pongah dengan petantang-petenteng semaunya.
Pemimpin redaksi sebagai jenderal atau komandan bagaimanapun harus menetapkan kebijakan dan mengawasi seluruh kegiatan redaksional dengan penuh tanggung jawab dan mengutamakan moralitas. Ia harus berada di depan saat media membutuhkannya sekaligus menjadi panutan bagi wartawannya. Dengan langkah itu ia turut menularkan ilmu dan pengalamannya sekaligus mempersiapkan bibit baru sebagai pemimpin redaksi kelak. Ini seperti mekanisme alam yang lama tergantikan yang baru, yang tua tergantikan yang muda. Butuh sikap legowo dan keikhlasan untuk itu. Selalu ingat bahwasanya Tuhan tidak pernah tidur, ada hukum tebar tuai disitu. Jika kita menebar kebaikan, maka kebaikanlah yang kelak datang. Demikian pula dengan sebaliknya.
