Semuanya bermula tatkala John Wood, seorang eksekutif di perusahaan ternama dunia, Microsoft, memutuskan untuk berlibur. John boleh dikata sebagai pribadi yang gila kerja. Ia tak seperti orang pada umumnya yang menyeimbangkan antara kesibukan kerja dan kesenangan pribadi. Dalam kamus John, tak ada waktu untuk memanjakan diri. Bahkan sekadar interaksi sosial dengan keluarga dan teman tak didapat. Di Microsoft, John adalah seorang spesialis dalam pasar internasional. Karena itu, waktunya sering dihabiskan di luar negeri. Sekali waktu ia berada di Johannesburg, beberapa waktu kemudian di Taiwan hanya untuk melaksanakan presentasi, meeting atau melakukan wawancara pers.
Aktivitas John di perusahaan yang didirikan Bill Gates tersebut penuh dengan tekanan. Dari tekanan itu lahir stres tingkat tinggi. John yang sadar akan hal itu, pada suatu hari memilih Himalaya, sebuah dataran tinggi di Nepal untuk menjauhkan diri sesaat dari pekerjaannya. Menempuh perjalanan sejauh 200 mil selama 20 hari dengan berjalan kaki, John menemukan desa terpencil dengan penduduk yang mayoritas buta huruf dan memiliki anak putus sekolah. Bahundanda nama desa itu. Di situ ia lantas berjumpa dengan seorang guru yang mengajaknya untuk berkunjung ke sekolah tempatnya mengajar.
Sebuah sekolah yang memiliki 450 siswa, namun tidak mempunyai perpustakaan yang layak. “Kami mengunjungi tiap ruang kelas yang berjumlah delapan. Semua sama sesaknya. Saat kami masuk, setiap siswa berdiri tanpa disuruh dan berteriak, ‘Good morning Sir,’ dalam bahasa Inggris yang sempurna.” Setelah itu, John melanjutkan, kepala sekolah membawanya ke perpustakaan sekolah. Di luar pintu terpampang jelas sebuah tulisan menegaskan, Perpustakaan Sekolah. Namun saat John melongok ke dalamnya, tak ada satu pun buku terlihat. Ruangan itu kosong, satu – satunya yang terlihat jelas adalah peta dunia tua yang menutupi dinding.
Dengan sopan John bertanya kepada kepala sekolah yang membawanya berkeliling sekolah, “Ini ruang perpustakaan yang indah. Terima kasih telah menunjukkan kepada saya. Saya hanya punya satu pertanyaan. Dimana, tepatnya, buku – buku anda?” Kepala sekolah kemudian menjelaskan, bahwa sekolahnya mengadakan proses belajar mengajar tanpa buku. “Saya dapat melihat bahwa anda pun menyadari bahwa ini sebuah masalah besar. Kami berharap dapat menanamkan kebiasaan membaca kepada anak didik kami. Namun itu tidak mungkin jika hanya buku – buku ini yang kami punya,” terang kepala sekolah seraya menunjukkan buku – buku peninggalan pelancong yang menurutnya tidak layak dibaca oleh anak – anak. John terhenyak mendengar penjelasan kepala sekolah. Ia berpikir bagaimana itu bisa terjadi saat di belahan dunia lain, buku – buku begitu melimpah. Lantas kepala sekolah itu menyadarkan John dengan peryataannya, “Barangkali, Pak, suatu hari anda akan kembali dengan buku – buku.”
Ia kemudian melebarkan sayapnya ke Vietnam. Karena sudah mencapai 2 negara (Nepal dan Vietnam), juga atas usulan teman – temannya. Program pengadaan buku itu dirubah dengan nama Room to Read. Di Room to Read, lembaga nirlaba yang dikelolanya, John menerapkan mekanisme kerja layaknya pada Microsoft. Orang – orang dengan talenta serta dedikasi tinggi direkrutnya. Kerjasama tim, disiplin tinggi serta gairah layaknya perusahaan kelas dunia merupakan cirinya. Banyak orang muda yang memiliki semangat, bergabung dengan Room to Read, walau mereka digaji relatif kecil.
John sebagai CEO Room to Read kerap melaksanakan perjalanan – perjalanan untuk mempromosikan bisnis sosialnya dan guna menjaring donasi. Ia bergerilya mulai dari M.I.T, pegawai di GoldMan Sachs hingga pengusaha – pengusaha Silicon Valley di California. Dari situ John sering dihadapkan pada situasi yang tidak menguntungkan maupun ditolak. Tetapi waktu membentuk kredibilitas Room to Read. Satu persatu donasi dari perusahaan atau individu mulai terhimpun. Umumnya mereka tertarik dengan ‘core business’ Room to Read yang bermaksud mendirikan perpustakaan, sekolah serta beasiswa jangka panjang bagi anak – anak sekolah di negara dunia ketiga. Hingga sekarang, organisasi nirlaba ini telah beroperasi di Nepal, Vietnam, Srilanka, India, Laos serta Kamboja. Sebanyak 3.870 perpustakaan, 287 sekolah, 136 laboraturium computer dan bahasa telah didirikan. Juga termasuk serangkaian proyek lain yang membawa dampak bagi 1,3 juta anak di negara Asia. Untuk mengembangkan ke negara dunia ketiga lainnya, John juga membangun jaringan donasi serta bisnis sosial lintas negara dan lintas budaya.
Memoar John itu tertuang dalam sebuah buku berjudul Leaving Microsoft to Change The World. Buku setebal 368 halaman ini begitu inspiratif. Cocok bagi orang yang ingin melakukan perubahan. Buku ini bukanlah perjalanan seorang beraliran ‘anti-kemapanan.’ John justru membuka mata kita yang telah terlanjur banjir hitung angka kapital dan melupakan sebagian orang yang malah jadi korban derasnya pembangunan dunia. Ia berani keluar dari zona nyaman untuk kemudian meletakkan cita – cita kenyamanan kepada anak – anak sekolah di belahan dunia ketiga melalui donasi buku secara massal. Semuanya itu berkat suara hatinya yang muncul saat berlibur. Seperti yang dikatakan USA Today, ‘Intinya adalah hasrat, dan tampaknya dunia menjadi lebih baik bagi John Wood saat ia mengikuti hasratnya.’
Oleh : Diky Refelino, Pengajar Tinggal di Kabupaten Lebong, Bengkulu
