Indonesia-Australia Perkuat Kerja Sama Riset dan Inovasi

Penyelenggaraan Indonesia-Australia Science and Innovation Symposium di Kantor Pusat Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Jakarta Selasa (12/5). Foto: GPriority/Dimas A Putra Penyelenggaraan Indonesia-Australia Science and Innovation Symposium di Kantor Pusat Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Jakarta Selasa (12/5). Foto: GPriority/Dimas A Putra

Jakarta, GPriority.co.id -Indonesia dan Australia memperkuat kemitraan strategis di bidang sains, teknologi, dan inovasi melalui penyelenggaraan Indonesia-Australia Science and Innovation Symposium di Kantor Pusat Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Jakarta Selasa (12/5).

Simposium tersebut dipimpin bersama oleh BRIN, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), dan Commonwealth Scientific and Industrial Research Organisation (CSIRO).

Deputi Bidang Sumber Daya Manusia Ilmu Pengetahuan dan Teknologi BRIN, Edy Giri Rachman Putra, mengatakan penguatan kapasitas kelembagaan dan kerja sama global menjadi faktor penting dalam mendorong kemajuan ekosistem riset nasional.

Menurutnya, simposium ini menjadi platform penting bagi BRIN dan para mitra untuk bertukar pengetahuan, memperkuat kapasitas kelembagaan, dan mengeksplorasi pendekatan praktis dalam meningkatkan sistem sains dan inovasi Indonesia.

“Melalui kolaborasi dengan mitra internasional seperti CSIRO, kita dapat mempercepat reformasi yang mendukung riset yang berdampak dan terhubung secara global,” ujar Edy.

Adapun kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian Science Management & Innovation yang lebih luas melalui kolaborasi antara KONEKSI dan CSIRO.

Program itu bertujuan mendorong diskusi kebijakan strategis guna menghasilkan solusi aplikatif dan inovatif.

Setelah simposium, agenda akan dilanjutkan dengan rangkaian Masterclass dan pertukaran pakar di bidang sains, teknologi, dan inovasi pada 13–15 Mei 2026.

Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek, Fauzan Adziman, menilai integrasi antara riset, pendidikan tinggi, dan prioritas nasional perlu diperkuat melalui koordinasi lintas lembaga.

“Ekosistem riset dan pendidikan tinggi Indonesia perlu semakin terhubung untuk dapat merespons tantangan dan peluang nasional secara efektif. Kemitraan ini mendukung pengembangan kebijakan berbasis bukti dan membuka peluang berharga untuk kolaborasi, penguatan kapasitas, dan pertumbuhan berbasis inovasi,” ujar Fauzan.

Simposium yang berlangsung selama satu hari itu berfokus pada penguatan ekosistem program sains dan inovasi Indonesia-Australia melalui pertukaran pengetahuan terkait isu prioritas bersama, mulai dari strategic foresight, pengukuran dampak, pengelolaan sains dan inovasi, hingga sistem pendanaan riset.

Minister-Counsellor Pembangunan Manusia dan Kemanusiaan Kedutaan Besar Australia di Jakarta, Tim Stapleton, mengatakan pendidikan, sains, dan teknologi menjadi fondasi utama dalam hubungan kedua negara.

“Pendidikan, sains dan teknologi merupakan fondasi utama dalam kemitraan antara Australia dan Indonesia untuk meingkatkan produktivitas, mendukung inovasi dan membangun sumber daya manusia,” ujar Tim Stapleton.

Ia juga menegaskan kembali komitmen Australia untuk memperkuat kemitraan jangka panjang di bidang sains dan inovasi bersama Indonesia.

Sementara itu, Direktur CSIRO untuk Asia Tenggara, Amelia Fyfield, menilai kolaborasi internasional menjadi kunci menghadapi tantangan global yang semakin kompleks.

“Dengan berbagi pengalaman internasional dan perangkat praktis, kami berharap dapat berkontribusi pada penguatan sistem riset, program inovasi yang lebih efektif, serta kemitraan jangka panjang yang memberikan dampak nyata,” ujar Amelia Fyfield.