Jepang, GPriority.co.id – Presiden Prabowo Subianto mencanangkan lompatan besar kerja sama Indonesia–Jepang melalui fokus pada energi hijau, hilirisasi industri, dan diplomasi ekonomi dalam kunjungannya ke Tokyo.
Perlu diketahui, agenda tersebut tidak hanya memperkuat hubungan bilateral, tetapi juga menghasilkan komitmen investasi raksasa yang mempertegas posisi Indonesia sebagai magnet investasi di kawasan.
Dalam rangkaian kegiatan di Jepang, Presiden Prabowo menegaskan bahwa Indonesia tengah bergerak menuju transformasi ekonomi besar berbasis keberlanjutan dan nilai tambah. Ia menyampaikan pentingnya peran energi hijau dan hilirisasi sebagai fondasi masa depan ekonomi nasional.
“Kita ingin melakukan lompatan besar, tidak lagi berjalan biasa-biasa saja,” tegas Presiden Prabowo dalam pernyataannya di Tokyo, dikutip dari laman Sekretariat Presiden RI pada Selasa (31/3).
Presiden juga menekankan bahwa diplomasi ekonomi menjadi instrumen utama dalam menarik investasi berkualitas. Menurutnya, Indonesia membuka peluang seluas-luasnya bagi mitra strategis seperti Jepang untuk terlibat dalam pembangunan sektor prioritas, termasuk energi terbarukan dan industri hilir.
Komitmen tersebut langsung tercermin dalam capaian konkret. Presiden Prabowo menyaksikan penandatanganan kesepakatan bisnis dengan nilai fantastis mencapai USD 23,63 miliar atau setara Rp401,71 triliun. Kesepakatan ini menjadi bukti kuat bahwa Indonesia semakin dipercaya sebagai tujuan investasi global.
Dalam kesempatan tersebut, Presiden menyatakan optimisme terhadap masa depan kerja sama ekonomi kedua negara. Ia menilai bahwa Jepang memiliki peran penting dalam mendukung percepatan industrialisasi dan transformasi ekonomi Indonesia.
“Indonesia siap menjadi mitra utama Jepang di kawasan, dengan peluang investasi yang nyata dan menguntungkan,” ujarnya.
Selain itu, sektor energi menjadi fokus utama dalam pembahasan bilateral. Pemerintah Indonesia mendorong percepatan transisi energi sekaligus pengembangan proyek strategis nasional, termasuk Blok Masela yang telah lama menjadi perhatian.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa dirinya mendapat arahan langsung dari Presiden untuk mempercepat realisasi investasi di sektor energi.
“Pertama adalah memastikan percepatan tentang investasi di transisi energi. Yang kedua adalah menyangkut Inpex Blok Masela,” ujar Bahlil.
Ia juga menambahkan bahwa proyek Blok Masela ditargetkan memasuki tahap penting pada 2026, termasuk penyelesaian Front-End Engineering Design (FEED) dan pelaksanaan tender Engineering, Procurement, and Construction (EPC).
“Nah, tugas saya sebagai Menteri ESDM… mengharapkan agar proyek ini bisa cepat diimplementasikan,” lanjutnya.
Proyek ini diperkirakan memiliki nilai investasi lebih dari Rp300 triliun dan berpotensi memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus menjadikan Indonesia sebagai pemain utama dalam industri gas global.
Di sisi lain, pemerintah juga terus mendorong pengembangan energi terbarukan seperti panas bumi, tenaga air, surya, dan angin. Langkah ini menjadi bagian dari strategi besar Indonesia dalam menghadapi ketidakpastian geopolitik global sekaligus mempercepat transisi menuju energi bersih.
“Selama ada teknologi yang efisien, kita akan dorong,” kata Bahlil menegaskan komitmen pemerintah terhadap energi hijau.
Kunjungan Presiden Prabowo ke Jepang ini menunjukkan sinergi kuat antara diplomasi ekonomi dan kebijakan domestik. Dengan kombinasi reformasi, proyek strategis, dan kerja sama internasional, Indonesia berupaya mempercepat pertumbuhan ekonomi sekaligus meningkatkan daya saing global.
Momentum ini juga mempertegas arah kebijakan pemerintah yang tidak hanya fokus pada investasi, tetapi juga pada kualitas dan keberlanjutan. Dengan dukungan Jepang sebagai mitra strategis, Indonesia optimistis dapat mewujudkan transformasi ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
