Jakarta, GPriority.co.id – Indonesia dilaporkan akan stop impor beras mulai 2025 ini, setelah produksi beras dalam negeri meningkat.
Menurut data BPS (Badan Pusat Statistik), stok beras nasional pada awal Mei 2025 saja telah mencapai 3,5 juta ton. Angka ini diprediksi akan terus melambung hingga 4 juta ton. Hal ini dikarenakan tingkat serapan beras yang kini mencapai 50 ribu ton per harinya.
Adapun jumlah tersebut menjadi yang tertinggi selama 57 tahun terakhir. Di tahun 2025 ini, produksi beras dalam negeri ditargetkan menyentuh angka 32 juta ton. Sedangkan pada 2026 diprediksi meningkat sampai 34,6 juta ton.
Presiden Prabowo mengklaim jika pemerintah belum pernah memiliki jumlah beras sebesar sekarang. Menurutnya, capaian ini tidak datang begitu saja melainkan bentuk hasil dari kerja keras.
Hal ini juga sejalan dengan instruksinya yang gencar memperjuangkan swasembada pangan sejak menjabat pada Oktober 2024 lalu. Prabowo ingin mengurangi ketergantungan Indonesia kepada negara lain, terutama terkait impor beras.
Sebagai informasi, Indonesia masuk dalam salah satu negara penghasil beras terbesar di dunia dengan angka 33,5 juta ton. Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia juga aktif mengimpor beras, dengan pemasok utama dari Thailand, Vietnam, Myanmar, Pakistan, hingga India.
Di tahun 2024 lalu, jumlah impor beras Indonesia sebesar 4,52 juta ton. Sedangkan jumlah produksi beras dalam negeri sekitar 30,37 juta ton. Hal tersebut menandakan impor beras pada tahun 2024 setara dengnan 14,88% dari produksi beras dalam negeri.
Jika Indonesia stop impor beras, maka ada beberapa dampak positif yang akan dirasakan. Seperti Indonesia yang menjadi lebih mandiri dalam memenuhi kebutuhan beras, meningkatkan ketahanan pangan nasional, serta mengurangi biaya impor dan dapat menghemat devisa negara.
Selain itu, harga beras di pasar domestik juga akan cenderung lebih stabil dan turut meningkatkan permintaan beras lokal. Kendati demikian, rencana ini juga memiliki sejumlah tantangan, dimana pemerintah Indonesia harus memastikan produksi beras secara konsisten begitupun dengan distribusi beras yang harus merata.
Foto : Dok. Perum BULOG
