Jakarta, GPriority.co.id – Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengungkapkan besaran anggaran yang dibutuhkan untuk pemulihan infrastruktur transportasi di Provinsi Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat pascabencana banjir.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menjelaskan, berdasarkan sebaran wilayah terdampak, kebutuhan anggaran di Provinsi Aceh mencapai Rp814,80 miliar, Provinsi Sumatra Utara sebesar Rp544,89 miliar, dan Provinsi Sumatra Barat sebesar Rp112,78 miliar.
Dudy mengatakan, Kemenhub akan memfokuskan penanganan pada pemulihan lalu lintas, rehabilitasi terminal, perbaikan prasarana perkeretaapian, serta peningkatan fasilitas bandar udara yang berfungsi sebagai simpul tanggap bencana.
“Kami akan fokus pada pemulihan lalu lintas, rehabilitasi terminal, perbaikan prasarana perkeretaapian, serta peningkatan fasilitas bandar udara yang berfungsi sebagai simpul tanggap bencana. Dengan dukungan dari Komisi V DPR RI, kami optimistis upaya ini dapat berjalan tepat waktu dan tepat sasaran,” kata Dudy dalam Rapat Kerja dengan Komisi V DPR RI terkait “Penanganan Pasca Bencana di Provinsi Aceh, Provinsi Sumatra Utara, dan Provinsi Sumatra Barat” di Jakarta, Selasa (27/1).
Lebih lanjut, Dudy memaparkan kondisi infrastruktur transportasi yang terdampak di masing-masing wilayah.
Di Provinsi Aceh, infrastruktur yang terdampak meliputi 3 Terminal Tipe A, 3 Terminal Tipe B, 2 Unit Pelaksana Penimbangan Kendaraan Bermotor (UPPKB), serta jalur rel kereta api lintas Muara Satu–Kuta Blang sepanjang 30 kilometer dengan 65 titik lokasi terdampak. Selain itu, terjadi kerusakan pada perlengkapan keselamatan jalan seperti marka, rambu, Alat Penerangan Jalan (APJ), chevron, lampu peringatan (warning light), dan Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas (APILL).
“Kondisi ini tentu memengaruhi kelancaran arus barang dan orang di wilayah Aceh. Karena itu, penanganan darurat di daerah ini kami prioritaskan pada pemulihan fungsi konektivitas dasar,” ungkap Dudy.
Di Sumatra Utara, bencana berdampak pada 1 Terminal Tipe A serta jalur rel kereta api lintas Medan–Binjai dan Binjai–Besitang sepanjang 99 kilometer dengan 88 titik lokasi terdampak. Kerusakan juga terjadi pada marka, rambu, Alat Penerangan Jalan (APJ), guardrail, dan lampu peringatan (warning light), yang berpotensi menurunkan tingkat keselamatan lalu lintas jika tidak segera ditangani.
Sementara di Sumatra Barat, bencana berdampak pada 1 Terminal Tipe A serta jalur rel kereta api lintas Padang–Lubuk Alung–Kayu Tanam sepanjang 52 kilometer dengan 8 titik lokasi terdampak. Kerusakan juga ditemukan pada marka, rambu, Alat Penerangan Jalan (APJ), guardrail, serta fasilitas pendukung transportasi lainnya.
“Penanganan di wilayah ini difokuskan pada pemulihan akses transportasi utama yang menunjang aktivitas masyarakat serta logistik antardaerah,” pungkasnya.
