Ketua APPBI: Belanja di Mal Tetap Ramai tapi Beralih ke Produk Murah

Diskusi Kemendag bersama pelaku usaha pada Senin (8/6) di Gedung Kemendag/Foto : Dok. GPriority (Risma Octavia) Diskusi Kemendag bersama pelaku usaha pada Senin (8/6) di Gedung Kemendag/Foto : Dok. GPriority (Risma Octavia)

Jakarta, GPriority.co.id – Tren belanja masyarakat Indonesia mengalami perubahan pada 2026. Meski kunjungan ke pusat perbelanjaan tetap tinggi, konsumen kini cenderung memilih produk yang lebih terjangkau di tengah tekanan daya beli dan penguatan dolar Amerika Serikat (AS).

Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), Alphonzus Widjaja, mengatakan perubahan perilaku konsumen tersebut mulai terlihat dalam beberapa bulan terakhir.

Masyarakat masih datang ke mal, namun lebih selektif dalam berbelanja dan mengutamakan kebutuhan dibandingkan produk premium. Tren ini juga tercermin pada penjualan tenant yang masih tumbuh, meski tidak seagresif periode pascapandemi.

Menurut Alphonzus, perlambatan transaksi setelah Lebaran merupakan pola musiman yang biasa terjadi di sektor ritel. Periode Lebaran dan Natal masih menjadi puncak penjualan tahunan, sehingga penurunan pada bulan-bulan berikutnya bukan hal yang mengkhawatirkan.

“Dalam sektor ritel, puncak tertinggi memang terjadi saat Lebaran dan Natal. Setelah itu biasanya ada penurunan dibandingkan periode puncak tersebut,” ujarnya dalam diskusi bersama Kementerian Perdagangan, Senin (8/6).

Meski demikian, pelaku usaha tetap optimistis terhadap prospek industri ritel hingga akhir tahun. APPBI memperkirakan pertumbuhan sektor ritel nasional masih berada di kisaran 5 hingga 10 persen sepanjang 2026, didorong oleh momentum libur sekolah, musim liburan pertengahan tahun, serta meningkatnya kunjungan wisatawan mancanegara.

Selain mengandalkan konsumsi domestik, sektor ritel juga berharap pada kontribusi wisata belanja. Kementerian Pariwisata bersama pelaku usaha terus mendorong program Bangga Berwisata di Indonesia (BBWI) dan Belanja di Indonesia Aja untuk meningkatkan kunjungan wisatawan ke pusat-pusat perbelanjaan di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan sejumlah destinasi lainnya.

Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata menyebut promosi wisata belanja dilakukan melalui pameran internasional, business matching, hingga program familiarization trip yang melibatkan pelaku industri pariwisata luar negeri.

Di sisi lain, APPBI mengakui penguatan dolar AS menjadi tantangan tersendiri bagi sebagian pelaku usaha yang masih bergantung pada barang impor. Namun, dampaknya dinilai belum terlalu signifikan karena sebagian besar pengadaan barang telah dilakukan sejak tahun lalu.

Pelaku ritel kini lebih mewaspadai periode Agustus hingga November yang dinilai menjadi masa krusial bagi konsumsi masyarakat. Karena itu, berbagai program diskon, festival belanja, serta stimulus pemerintah diharapkan mampu menjaga daya beli dan mendorong pertumbuhan ekonomi hingga akhir tahun.