Jakarta, GPriority.co.id – Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani, melaporkan APBN Agustus 2024, dalam ‘Konferensi Pers APBN KiTa (Kinerja Nyata)’ di gedung Djuanda I, Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin (23/9).
Dalam laporannya tersebut, Menkeu Sri Mulyani menuturkan jika sampai dengan bulan Agustus 2024 kemarin, kinerja APBN sesuai dengan bulan-bulan sebelumnya. Bahkan terdapat perbaikan.
“Untuk belanja negara Rp1.930,7 triliun, 58,1% dari pagu dan pertumbuhannya masih sangat kuat. Sedangkan defisit APBN 153,7 triliun dan masih dalam track sesuai RUU APBN 2024,” jelasnya.
Lebih lanjut, Menkeu Sri Mulyani mengatakan jika dari sisi ekonomi, terdapat banyak perkembangan yang terjadi sampai bulan September ini.
“Overall sisi perekonomian global ada good news. Tapi dari negara-negara lain masih relative adanya pertumbuhan yang stagnan,” ujarnya.
Selain itu, hal lain yang perlu diperhatikan ialah sektor manufaktur yang masih melemah. Di berbagai negara yang mengalami kontraksi seperti Eropa dan Indonesia sendiri, serta Amerika Serikat.
Begitupun juga dengan komoditas yang maish mengalami tekanan. Sedangkan neraca perdagangan Indonesia surplus 2,9 di bulan Agustus.
Dilihat dari pertumbuhannya, ekspor Indonesia mengalami pertumbuhan hingga 7,1% dan relatif baik. Walaupun pada awal tahun, Indonesia sempat mengalami kontraksi ekspor.
Dari sisi pasar keuangan, pergerakan nilai tukar Indonesia juga mengalami peningkatan positif. Meski pasar keuangan domestik membaik, namun masih dinamis dipengaruhi kebijakan moneter global.
Pada laporan APBN KiTa yang dilaporkan bulan September ini, Menkeu Sri Mulyani melaporkan 4 poin kesimpulan.
Pertama, pertumbuhan ekonomi kuartal III 2024 diperkirakan tetap stabil didukung konsumsi yang terjaga kuat dan pertumbuhan investasi.
Kedua, kondisi global terus dicermati. Volatilitas pasar keuangan diharapkan menurun seiring semakin jelasnya arah kebijakan moneter negara maju.
Potensi dampak perlambatan pertumbuhan ekonomi global, kontraksi manufaktur, dan fluktuasi harga komoditas dimitigasi.
Ketiga, hingga Agustus 2024, kinerja APBN terjaga on-track. Perlambatan Pendapatan Negara terus diantisipasi. Belanja Negara dijaga kualitasnya.
Keempat, peran APBN sebagai shock absorder dalam melindungi masyarakat dan menjaga kestabilan perekonomian terus dioptimalkan.
Foto : GPriority/Nindya Farhah Azzahrah
