Amerika Serikat, GPriority.co.id – Setelah Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan bahwa ia tidak akan bergabung dengan ‘Dewan Perdamaian’, Presiden AS Donald Trump bereaksi.
Trump menyebut, “tidak ada yang menginginkan” pemimpin Prancis tersebut (untuk bergabung ke Dewan Perdamaian). Ia juga menambahkan, Macron juga akan segera meninggalkan jabatannya, sebagaimana dilansir dari AFP pada Rabu (21/1).
Perlu diketahui, Dewan Perdamaian merupakan inisiatif Trump guna mendorong stabilitas, memulihkan pemerintahan yang dapat diandalkan dan sah, serta mengamankan perdamaian abadi di daerah-daerah yang terkena dampak atau terancam oleh konflik.
“Yah, tidak ada yang menginginkannya karena dia akan segera lengser dari jabatannya… Jika mereka merasa bermusuhan, saya akan mengenakan tarif 200% pada anggur dan sampanyenya dan dia akan bergabung,” kata Trump kepada wartawan pada Selasa (20/1) kemarin.
Sementara itu, saat berpidato di Forum Ekonomi Dunia (WEF 2026) di Davos, Swiss, pada Selasa kemarin, Macron menegaskan, “Untuk memperbaiki ketidakseimbangan global, Eropa perlu menjadi jauh lebih kuat dan lebih otonom.”
Tanpa menyebut nama siapa pun, Macron mengatakan, “Kami percaya bahwa kita membutuhkan lebih banyak pertumbuhan, kita membutuhkan lebih banyak stabilitas di dunia ini. Tetapi kami lebih memilih rasa hormat daripada penindas… dan kami lebih memilih supremasi hukum daripada kebrutalan. Anda diterima di Eropa, dan Anda lebih dari diterima di Prancis.”
Hal ini terjadi di tengah keretakan yang sedang berlangsung antara Presiden Prancis dan mitranya dari Amerika, Donald Trump, terkait pengambilalihan Greenland.
“Lebih dari 60 perang pada tahun 2024, sebuah rekor absolut, meskipun saya memahami beberapa di antaranya telah direkayasa,” tambah Macron dalam pidatonya.
Presiden Prancis itu juga menambahkan bahwa dunia tidak boleh membiarkan mereka yang memiliki “suara lebih besar”, untuk dapat menentukan tatanan global, dan memperingatkan akan adanya pergeseran menuju “dunia tanpa aturan”.
“Dunia sedang mengalami pergeseran menuju ‘dunia tanpa aturan’, di mana hukum internasional diinjak-injak dan di mana satu-satunya hukum yang tampaknya penting adalah hukum yang terkuat,” kata Macron.
