Mengenal Super Flu: Penyakit yang Lebih Mudah Menular

Ilustrasi orang terserang Super Flu/Foto iStock Ilustrasi orang terserang Super Flu/Foto iStock

Jakarta, GPriority.co.id – Istilah Super Flu tengah ramai diperbincangkan, baik di dunia maupun di Indonesia. Istilah ini terdengar asing dan memunculkan kekhawatiran soal kesehatan masyarakat.

Fenomena ini muncul seiring meningkatnya kasus influenza di tengah musim hujan pada pergantian tahun 2025–2026. 

Lantas, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Super Flu?

Praktisi Kesehatan Masyarakat sekaligus Kepala Seksi Pelayanan Medik dan Keperawatan RSUD Tamansari, dr. Ngabila Salama, menjelaskan bahwa Super Flu bukanlah istilah medis resmi. 

Nama ini lebih sering digunakan media atau publik untuk menggambarkan flu yang terasa lebih berat, lebih lama, atau lebih mudah menular dibanding flu biasa.

“Biasanya, istilah ini mengacu pada Influenza A atau B dengan gejala cukup berat, menyerang banyak orang sekaligus, atau terasa lebih parah karena daya tahan tubuh sedang menurun. Bukan virus baru, dan bukan berarti virusnya ‘super’ atau kebal obat,” kata dr. Ngabila kepada GPriority, Rabu (31/12).

Dia menjelaskan alasan Super Flu lebih sering muncul dan terasa lebih berat, yakni karena imunitas populasi menurun, mobilitas dan kerumunan meningkat, perubahan cuaca ekstrem serta kelelahan dan stres kronis.

Apakah Super Flu berbahaya?

dr Ngabila mengatakan, ontuk orang sehat, Super Flu umumnya tidak mematikan, tetapi bisa sangat mengganggu aktivitas sehari-hari.

Namun, lanjut dia, penyakit ini bisa berbahaya pada sejumlah kelompok yakni anal kecil, lansia, ibu hamil, penderita penyakit kronis (asma, jantung, diabetes) serta pada orang dengan daya tahan tubuh rendah.

Komplikasi yang perlu diwaspadai antara lain pneumonia, infeksi telinga atau sinus berat, sesak napas, dan dehidrasi.

Gejala Umum Super Flu

  • Demam tinggi (≥38,5°C)
  • Nyeri badan dan sendi berat
  • Batuk kering atau berdahak
  • Pilek hebat
  • Sakit kepala
  • Lemas ekstrem
  • Kadang mual atau muntah (terutama pada anak-anak)

“Biasanya gejala berlangsung selama 7–10 hari, sementara rasa lemas bisa bertahan hingga dua minggu,” pungkasnya.