Jakarta, GPriority.co.id – Menteri Kesehatan (Menkes RI) Budi Gunadi Sadikin, belum lama ini mengeluarkan pernyataan yang menjadi sorotan. Budi mengatakan, untuk punya standar layanan kesehatan seperti Malaysia, Indonesia membutuhkan dana fantastis sebesar Rp1,37 kuadriliun.
Tambahan anggaran tersebut lebih besar 3 kali lipat, jika dibandingkan dengan anggaran Kementerian Kesehatan Indonesia saat ini. Budi melaporkan, kebutuhan belanja di sektor kesehatan kini terus meningkat. Namun sayangnya, tak sejalan dengan pertumbuhan ekonomi nasional yang sedang ‘melempem’.
Menyoroti hal tersebut, Budi menekankan pentingnya transofrmasi teknologi pada bidang alat kesehatan. Hal ini dilakukan agar layanan kesehatan di tanah air dapat lebih efisien.
“Kalau kita terus menambah belanja tanpa efisiensi, sistem ini tidak akan bertahan. Ibaratnya rumah tangga yang pengeluarannya naik 50 persen, namun penghasilannya hanya naik 8 persen. Ini jelas tidak seimbang,” ungkap Budi.
Sebagai contoh, Budi menyebut obat kolesterol generasi baru, PCSK9 inhibitor yang cukup diberikan 1 kali suntikan, namun hasilnya dapat efektif menurunkan kadar kolesterol secara signifikan.
Hal ini dapat menjadi solusi yang dinilainya lebih efisien, jika dibandingkan dengan terapi konvensional yang mahal, juga harus dikonsumsi setiap hari. Nantinya sesuai rencana, obat itu akan digunakan pada 500 rumah sakit di Indonesia.
Di samping itu, Budi turut menyebut bedah dengan bantuan robotoik dan AI guna mempercepat diagnosis, mempersingkat waktu operasi, serta mengurangi masa rawat inap, yang juga dapat menekan biaya dan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di tanah air.
“Teknologi itu tidak hanya membantu dokter, tetapi juga menyelamatkan anggaran negara. Kita harus mulai berpikir membangun sistem yang cerdas, bukan hanya sekadar besar,” tekannya.
Dalam mewujudkan hal tersebut, total belanja pada sektor kesehatan Indonesia diprediksi mencapai Rp3,9 kuadriliun dalam 5 taun ke depan. Dari angka tersebut, sepertiganya akan dialokasikan untuk pengadaan alat kesehatan, serta pengembangan pada teknologi medis.
Foto : Dok. Biro Humas Kemenkes
