Menunggu BELIEVE – The Ultimate Battle Tayang di 2025

Jakarta, Gpriority.co.id – Sebuah film tentang perang Timor Timur berjudul ‘BELIEVE – The Ultimate Battle,’ akan tayang pada 2025. Film yang didukung Puspen TNI sangat ditunggu peminat film action tanah air.

Ada beberapa alasan mengapa film action karya anak negeri begitu ditunggu. Pertama, produksi film action nasional masih sangat sedikit. Selama ini slot film action di bioskop banyak diisi oleh film-film produksi Hollywood. Kedua, film produksi anak negeri lebih banyak mengambil tema horor dan percintaan yang notabene lebih mendatangkan cuan.

Beruntung, BELIEVE – The Ultimate Battle mendapatkan sokongan penuh dari pemerintah dalam hal ini Puspen TNI dan Kementerian Pertahanan (Kemhan). Sejak 2024, BELIEVE – The Ultimate Battle pun sudah dipromosikan di media sosial resmi Puspen TNI dan Kemhan. Cuplikan film tersebut sekaligus perkenalan para pemeran dan orang-orang di balik filmnya ikut ditampilkan.

Film yang menceritakan perjuangan prajurit TNI di palagan perang Timor Timur ini juga begitu ditunggu mengingat melibatkan banyak pemeran atau kolosal. Celerina Tjandra Judisari selaku Produser mengungkapkan ratusan prajurit TNI dilibatkan untuk berakting.

Selain para prajurit aktif, aktor non-TNI juga ikut terlibat dan dilatih untuk memahami karakter TNI. Disebutkannya bahwa proyek ini mengungkap banyak bakat terpendam di kalangan TNI. Bahkan, Sutradara Rahabi Mandra menjelaskan adanya tantangan yakni dalam mengarahkan prajurit yang tidak terbiasa dengan teknik berakting. Pelatihan khusus, seperti teknik jatuh akibat tembakan, diberikan demi hasil yang realistis.

Dalam satu kesempatan, prajurit mengaku senang mendapatkan pengalaman baru di dunia film yang menurutnya berbeda dari tugas keseharian mereka. Dapat dikatakan film ini tidak sekadar sebuah tontonan, tetapi juga bentuk apresiasi terhadap pengabdian para prajurit TNI dalam menjaga kedaulatan negara.

Believe – The Ultimate Battle adalah produksi debut dari rumah produksi Bahagia Tanpa Drama. Film yang terinspirasi dari buku Believe karya Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto ini merupakan sebuah kisah nyata tentang keyakinan, mimpi dan keberanian, yang dikemas dalam format aksi perang.

Perjalanan hidup Sersan Kepala Dedy dan putranya, Agus, digambarkan berjuang untuk keyakinan mereka atas negara dan kehidupan pribadi. Sebagai seorang veteran perang Timor Timur 1975, Dedy menghadapi kenyataan pahit saat pengorbanannya di medan perang tak sepenuhnya dipahami oleh keluarga dan anaknya, Agus.

Sampai akhirnya Agus yang remaja menjadi nakal dan urakan karena selama ini tidak didampingi seorang Ayah. Apalagi secara ekonomi mereka juga dikatakan kurang mampu. Akan tetapi kematian Dedy menyadarkannya akan arti sebuah pengorbanan. Ia pun menjadi tentara mengikuti sang Ayah. Tantangan dan pergolakan batin menghampirinya, namun lewat keyakinan atas segala yang diambilnya Agus menemukan jalan yang mengubah kehidupannya.

Palagan perang membuat Agus berjuang tidak hanya melawan musuh, tetapi juga melawan prasangka dan keraguan dari rekan-rekannya. Keberanian dan kepemimpinannya diuji saat ia harus membuat keputusan sulit yang menentukan nasib banyak orang.

Berperan sebagai Agus adalah Ajil Ditto serta Adinda Thomas sebagai Evi. Adapun Sersan Kepala Dedy diperankan Wafda Saifan, Maudy Koesnaedi memerankan karakter mertua Agus, serta Marthino Lio sebagai lawan tangguh di medan perang. Film ini sendiri memiliki durasi 110 menit.

Melihat cuplikan BELIEVE – The Ultimate Battle di media sosial sendiri cukup seru dengan adegan penerjunan dari pesawat dan adegan tembak menembak saat di daratan. Namun tetap masih ada bumbu cinta, perjuangan dan penemuan jati diri.

Semoga saja film ini memenuhi rasa dahaga peminat film action khususnya film perang produksi dalam negeri. Toh sudah cukup lama film kolosal perang semacam ini tidak hadir di tanah air apalagi yang melibatkan TNI, garda pertahanan negara. Dahulu memang pernah ada film Operasi Trisula: Penumpasan Sisa-Sisa PKI di Blitar Selatan, Penghianatan G30S PKI, Djakarta 1966, Pelangi di Nusa Laut, Perwira dan Ksatria.

Film-film tersebut ada yang jenisnya dokumenter, ada yang cenderung doktrinasi juga ada yang mellow dengan menyelipkan drama percintaan. Sebaliknya film maupun visual terkait Operasi Seroja masih sedikit yang memproduksinya. Padahal Operasi Seroja adalah salah satu Operasi Militer terbesar yang dilakukan oleh Militer Indonesia. Operasi militer yang nyatanya dilakukan atas desakan Amerika Serikat dan Australia karena ketakutan jatuhnya Dili ke pelukan Komunis. Masa itu memang dikenal sebagai eranya Perang Dingin antara Kapitalis yang diwakilkan negara Barat dengan Komunis yang identik dengan Blok Timur.

Sementara film terkait konflik Timor Timur di luar negeri justru banyak beredar baik berupa dokumenter atau drama. Sekadar menyebut ada ‘Balibo’ produksi Australia tahun 2009, Santa Cruz Cemetary Massacre karya jurnalis Inggris Max Stahl tahun 1991 serta Beatriz’s War produksi Timor Leste. Film-film tersebut tentu menggambarkan kebrutalan tentara Indonesia dan berujung pada stereotipe pelanggar Hak Asasi Manusia (HAM).

Film memang alat yang sangat potensial untuk menggiring opini publik. Film sebagai propaganda politik dinilai memiliki kesempatan yang lebih baik dan lebih cepat untuk membawa pesan kepada masyarakat agar dapat memahami pesan-pesan tertentu ketimbang dengan bacaan ataupun teori. Maka sah saja bagi suatu negara untuk menerbitkan sebuah film sebagai bentuk propaganda. Amerika pun memanfaatkan Hollywood sebagai media untuk memperkuat dominasi global.

Foto : Istimewa