Penulis: Dimas | Editor: Lina F | Foto: Istimewa
Jakarta,GPriority.co.id-Perselingkuhan pastinya sesuatu yang paling dihindari oleh setiap pasangan, terutama bagi seorang pria.
Lantas apa yang membuat seorang pria memutuskan selingkuh? Penelitian menunjukkan bahwa pada pria yang doyan selingkuh, sensasi deg-degan campur bahagia karena tidak (atau belum) ketahuan selingkuh malah semakin memotivasi mereka untuk melakukan hal tersebut.
Pria-pria ini mengalami dorongan dopamin (zat kimia dalam otak yang memengaruhi emosi, tindakan, dan kesenangan serta rasa sakit) dan adrenalin saat terlibat dalam perilaku yang kurang etis, seperti perselingkuh.
Bukan hanya itu, pria adalah mahkluk yang serba praktis. Motivasi utama mereka untuk terlibat dalam sebuah hubungan romantis adalah untuk mendapatkan kepuasan seksual. Ini sebabnya salah satu alasan klasik dari pria-pria yang berselingkuh adalah untuk memperoleh pengalaman seks dan orgasme yang lebih baik dari perempuan lain yang lebih menarik (atau berpengalaman) dari pasangannya saat ini.
Menurut studi yang dilakukan oleh Satoshi Kanazawa, seorang psikolog evolusioner dari London School of Economics and Political Science, bahwa semakin cerdas seorang pria, akan semakin kecil kemungkinannya ia akan berselingkuh dari pasangannya. Ini karena pria-pria yang memiliki IQ tinggi lebih menghargai aspek ekslusivitas seksual dan hubungan monogami itu sendiri, daripada mereka yang hobi selingkuh.
Kanazawa berteori bahwa hubungan antara kecerdasan laki-laki dan kecenderungannya untuk berselingkuh berakar dari perkembangan evolusi manusia. Di zaman prasejarah, seks hanya dianggap sebagai kebutuhan biologis murni untuk menghasilkan keturunan sebanyak-banyaknya.
Pacar dan suami selingkuh dinilai memiliki IQ yang lebih “jongkok” daripada pria lainnya karena mereka dianggap gagal untuk beradaptasi dengan evolusi manusia modern. Karena untuk bisa beradaptasi dengan setiap perkembangan yang ada, manusia memerlukan kecerdasan kognitif yang mumpuni untuk memungkinkannya mampu membaca segala situasi dengan berpikir secara logis.
Menariknya, menurut teori Kanazawa, hubungan antara kesetiaan dan kualitas kecerdasan tidak berlaku untuk perempuan. Ini karena kaum Hawa akan selalu diharapkan untuk setia kepada satu pasangan bahkan dalam masyarakat poligami sekalipun.
