Amerika Serikat, GPriority.co.id – Pemerintah AS melalui Departemen Luar Negeri AS mendesak warganya untuk segera meninggalkan Iran, di tengah kerusuhan yang terjadi di negara tersebut. Desakan ini disampaikan pada Selasa (13/1) kemarin.
“Jika aman untuk melakukannya, pertimbangkan untuk meninggalkan Iran melalui jalur darat ke Armenia dan Turki,” tulis Departemen Luar Negeri AS di laman resminya.
Selain itu, Kedutaan virtual AS untuk Iran dalam sebuah pernyataan di situs webnya juga menyarankan warga Amerika untuk merencanakan cara komunikasi alternatif, mengingat adanya pemadaman internet yang sedang berlangsung.
Imbauan tersebut terjadi beberapa jam usai Presiden AS Donald Trump menyerukan para pengunjuk rasa di Iran untuk mengambil alih lembaga-lembaga negara, dan menyatakan dukungan untuk protes yang tengah berlangsung saat ini.
Di tengah meningkatnya protes di Iran, Trump, dalam sebuah unggahan di Truth Social, juga mendesak warga Iran untuk terus berdemonstrasi. Ia bahkan berjanji bahwa bantuan untuk mereka sedang dalam perjalanan.
Sementara itu, Kedubes AS untuk Iran yang meminta warganya untuk segera meninggalkan Iran, mengatakan bahwa warga negara ganda harus keluar dari Iran dengan paspor Iran.
“Pemerintah Iran tidak mengakui kewarganegaraan ganda dan akan memperlakukan warga negara ganda AS-Iran semata-mata sebagai warga negara Iran,” ungkap mereka.
Dalam pernyataannya, Kedubes AS untuk Iran juga menambahkan bahwa warga AS berisiko tinggi untuk diinterogasi, ditangkap, dan ditahan di Iran. Menurut mereka, pejabat Iran dapat menahan warga AS hanya karena memiliki paspor AS atau karena menunjukkan hubungan dengan Amerika Serikat.
Terlebih lagi, dalam unggahan di Truth Social, Trump meminta warga Iran untuk terus melakukan protes dan mendesak mereka untuk mengambil alih lembaga negara Iran.
Trump menyerukan agar mereka mencatat nama-nama orang yang bertanggung jawab atas kematian dan penyiksaan di tengah protes yang sedang berlangsung.
“Mereka akan membayar harga yang mahal,” tulis Trump yang kemudian menimbulkan kekhawatiran bahwa AS mungkin akan segera menyerang Iran.
Presiden dari Partai Republik itu menambahkan, bahwa ia telah menangguhkan semua pembicaraan dengan pejabat Iran sampai apa yang ia sebut sebagai, “pembunuhan demonstran yang tidak masuk akal” berakhir.
