Peneliti BRIN: Dampak Badai Siklon Terhadap Bencana Sumatera Hanya 20 Persen

Peneliti BRIN, Prof. Erma Yulihastin, saat memberikan pemaparan pada agenda diskusi publik yang berlangsung di Jakarta pada Senin (26/1)/Foto : GPriority (Nindya Farhah Azzahrah) Peneliti BRIN, Prof. Erma Yulihastin, saat memberikan pemaparan pada agenda diskusi publik yang berlangsung di Jakarta pada Senin (26/1)/Foto : GPriority (Nindya Farhah Azzahrah)

Jakarta, GPriority.co.id – Prof. Erma Yulihastin, Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menyoroti dampak badai siklon terhadap bencana Sumatera yang ramai beberapa waktu lalu.

Berbagai narasi yang muncul di media menyebut, banjir dan longsor yang terjadi baik di Aceh, Sumatera Utara, maupun Sumatera Barat, disebabkan oleh badai siklon yang disebut kian memperburuk dampak krisis iklim.

Kendati demikian, berdasarkan kajian yang telah dilakukan, Prof. Erma menyebut bahwa dampak badai siklon terhadap bencana Sumatera hanya 20 persen.

“Secara kacamata meterologis, jadi dari kacamata cuaca ekstrem dengan kecepatan cuma 45-55 km per jam, mestinya badai level 1 saja belum sampai. Artinya, dia tidak puny kemampuan untuk untuk merusak sistem, tidak akan biki sistem itu collapse dengan hanya badai level itu. Sehingga jangan salahkan senyar,” jelasnya dalam agenda diskusi publik yang berlangsung di Jakarta, Senin (26/1).

Lebih lanjut Prof. Erma mengatakan, apalagi mitigas baik terbentuk, seharusnya bencana yang terjadi dapat diatasi seminimalisir mungkin.

“Mitigasi itu kuncinya ada dua ya. Menghindari risiko, avoid, dan meminimalkan risiko. Jadi meskipun badainya besar, tapi kalau mitigasinya terjadi, maka tidak akan terjadi collapse sistem itu. Tapi ini kan dari energi badai yang cuma 20 persen, dia menjadi 25 persen, hingga membuat kerusakan 15 persen, dan seterusnya berantai. Jadi efeknya kalau ditotal ada 65 persen. Artinya bahwa dampak dari cuaca ekstrem kok besar banget? padahal badainya kecil,” tegasnya.

Oleh karena itu, Prof. Erma menyebut, terjadi missing link seperti mitigasi yang tidak jalan. Terlebih lagi, Sumatera menjadi daerah di Indonesia yang paling terdampak dari seluruh wilayah di Indonesia, sebagai daerah yang paling rawan terhadap cuaca ekstrem.

“Sumatera yang warnanya paling merah di antara seluruh wilayah Indonesia kalau kita ranking. Berarti Sumatera adalah juara satu, kalau kita bicara perubahan iklim yang akan berdampak, atau daerah paling rawan terhadap cuaca ekstrem, di bulan-bulan musim hujan, dari Desember sampai bulan Mei. Sumatera juaranya,” ungkapnya.

Sementara itu, Kalimantan mengisi posisi nomor dua, baru kemudian Jawa (khususnya bagian timur), di nomor tiga. Prof. Erma pun meminta pemerintah untuk memprioritaskan apa yang terjadi di Sumatera, terlebih di wilayah tersebut sirkulasi angin yang seharusnya lurus, membelok menuju wilayah Sumatera. Akibatnya, menimbulkan badai berkepanjangan.

“Bahkan nanti kejadian yang harusnya terjadi 150 tahun sekali, itu akan menjadi 20 tahun sekali. Jadi sesuatu yang kita kira sangat langka, akan menjadi lebih sering terjadi,” pungkas Erma sambil menujukkan wilayah zona merah di Pulau Sumatera.