Penelitian: Hampir 2 Juta Kelahiran Prematur Terjadi Akibat Paparan Zat Kimia Plastik

Ilustrasi ibu hamil/Foto : Dok. iStock Ilustrasi ibu hamil/Foto : Dok. iStock

Jakarta, GPriority.co.id – Sebuah studi terbaru mengungkap fakta mengejutkan terkait dampak zat kimia plastik terhadap kesehatan secara global, khususnya pada angka kelahiran prematur.

Dilansir dari laman resminya, penelitian yang dipimpin oleh tim dari NYU Langone Health menemukan bahwa hampir 2 juta kasus kelahiran prematur di seluruh dunia dalam satu tahun berkaitan dengan paparan satu jenis bahan kimia, yaitu di-2-ethylhexylphthalate (DEHP).

Menurut Wikipedia, kelahiran prematur sendiri merupakan kondisi ketika bayi lahir sebelum usia kehamilan mencapai 37 minggu.

Kondisi ini menjadi salah satu penyebab utama kematian anak di bawah usia lima tahun serta dapat memicu gangguan perkembangan jangka panjang, seperti masalah kognitif, penglihatan, dan pendengaran.

Sementara itu, DEHP merupakan bagian dari kelompok bahan kimia yang dikenal sebagai phthalates, yang umum digunakan untuk membuat plastik menjadi lebih fleksibel. Zat ini banyak ditemukan dalam produk sehari-hari seperti kosmetik, deterjen, pestisida, hingga kemasan makanan.

Menurut para peneliti, paparan terhadap DEHP dapat terjadi melalui udara, makanan, maupun debu yang terkontaminasi partikel mikroplastik. Setelah masuk ke dalam tubuh, zat ini dapat mengganggu sistem hormon (endokrin), memicu peradangan, serta menghambat perkembangan plasenta selama kehamilan.

Tak hanya itu, penelitian tersebut juga mengaitkan paparan DEHP dengan sekitar 74.000 kematian bayi baru lahir secara global pada tahun yang sama.

Studi ini juga menunjukkan bahwa dampak paparan zat kimia plastik tidak merata di seluruh dunia. Wilayah seperti Asia Selatan, Timur Tengah, dan Afrika disebut mengalami beban terbesar akibat tingginya paparan phthalates.

Faktor seperti pertumbuhan industri plastik, regulasi lingkungan yang lemah, serta akses layanan kesehatan yang terbatas diduga memperparah risiko di kawasan tersebut. Bahkan, Afrika dilaporkan memiliki tingkat kematian bayi prematur yang lebih tinggi dibandingkan wilayah lain.

Para ilmuwan juga menyoroti bahwa phthalates dapat terurai menjadi mikroplastik yang semakin mudah masuk ke dalam tubuh manusia. Partikel ini telah ditemukan di berbagai organ tubuh, termasuk plasenta, yang berperan penting dalam perkembangan janin.

Paparan toksin lingkungan seperti ini diketahui dapat menyebabkan gangguan perkembangan janin, kelahiran prematur, hingga cacat lahir. Bahkan, sejumlah penelitian sebelumnya juga telah mengaitkan paparan bahan kimia lingkungan dengan peningkatan risiko komplikasi kehamilan.

Peneliti menegaskan bahwa pendekatan regulasi yang hanya menargetkan satu jenis bahan kimia tidak cukup efektif. Pasalnya, bahan pengganti DEHP seperti DiNP juga diduga memiliki risiko serupa terhadap kesehatan.

Oleh karena itu, para ahli menyerukan perlunya regulasi yang lebih luas terhadap seluruh kelompok bahan kimia plastik, bukan hanya satu per satu. Langkah ini dinilai penting untuk mencegah dampak kesehatan yang lebih besar di masa depan.

Selain itu, masyarakat juga diimbau untuk mulai mengurangi paparan terhadap produk berbahan plastik, terutama bagi ibu hamil. Menghindari penggunaan plastik sekali pakai, memilih produk bebas phthalates, serta menjaga kebersihan lingkungan menjadi langkah awal yang dapat dilakukan.