Waspada Mini Stroke, Saat Aliran Darah ke Otak Terhambat Sementara

Ilustrasi penderita Mini stroke atau transient ischemic attack (TIA)/Foto : Dok. Freepik Ilustrasi penderita Mini stroke atau transient ischemic attack (TIA)/Foto : Dok. Freepik

Jakarta, GPriority.co.id – Mini stroke atau transient ischemic attack (TIA) kerap dianggap sepele karena gejalanya hanya berlangsung singkat. Namun para ahli menegaskan kondisi ini justru menjadi sinyal awal dari stroke besar yang berpotensi mematikan.

TIA terjadi ketika aliran darah ke otak terhambat sementara, biasanya akibat gumpalan darah atau penumpukan plak di pembuluh darah. Meski tidak menyebabkan kerusakan permanen, kondisi ini tidak boleh diabaikan. Bahkan, tanpa penanganan, hingga 20% penderita TIA dapat mengalami stroke dalam waktu 90 hari, dan setengahnya terjadi dalam dua hari pertama.

Menurut Dr. Mitchell S.V. Elkind, dilansir dari laporan NY Post, mini stroke adalah alarm dini yang memberi kesempatan untuk mencegah stroke yang lebih parah.

Gejala mini stroke sering muncul tiba-tiba dan hilang dalam hitungan menit, sehingga banyak orang menganggapnya sebagai gangguan ringan. Padahal, tanda-tandanya mirip dengan stroke biasa.

Para ahli merekomendasikan metode BE FAST untuk mengenali gejala, yaitu:

– Balance: kehilangan keseimbangan atau koordinasi
– Eyes: gangguan penglihatan mendadak
– Face: wajah menurun di satu sisi
– Arms: kelemahan pada lengan
– Speech: bicara pelo atau sulit berbicara
– Time: segera cari bantuan medis

Adapun mini stroke bisa terjadi pada siapa saja, tetapi ada kelompok tertentu yang memiliki risiko lebih tinggi. Faktor utama meliputi:

– Tekanan darah tinggi (hipertensi)
– Diabetes tipe 2
– Kolesterol tinggi
– Gangguan irama jantung seperti atrial fibrillation
– Obesitas
– Kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol
– Usia di atas 55 tahun.

Selain itu, riwayat stroke dalam keluarga atau pernah mengalami TIA sebelumnya juga meningkatkan risiko secara signifikan. Data menunjukkan sekitar 240.000 orang di Amerika Serikat mengalami TIA setiap tahun, meskipun angka sebenarnya diperkirakan lebih tinggi karena banyak kasus tidak dilaporkan.

Untuk mencegah mini stroke, beberapa langkah pencegahannya antara lain seperti mengontrol tekanan darah, menjaga kadar gula dan kolesterol, rutin berolahraga, hingga berhenti merokok.