Penelitian Terbaru: Intermittent Fasting Tak Terlalu Berdampak Pada Kesehatan

Ilustrasi intermittent fastinf (IF) / Foto : Dok. Freepik Ilustrasi intermittent fastinf (IF) / Foto : Dok. Freepik

Jakarta, GPriority.co.id – Intermittent fasting (IF) atau puasa intermiten telah lama dan cukup populer di Indonesia. Metode ini banyak dijalankan khususnya bagi mereka yang ingin menurunkan berat badan atau menerapkan gaya hidup yang lebih sehat.

Namun, penelitian terbaru dari Jerman menunjukkan bahwa intermitten fasting tak terlalu berdampak pada kesehatan, sebagaimana dilansir dari laporan NY Post pada Jumat (9/1).

Penelitian tersebut melibatkan 31 wanita yang kelebihan berat badan atau obesitas. Mereka diminta untuk melakukan intermittent fasting dengan jendela makan yang berbeda.

Satu kelompok makan antara pukul 8 pagi dan 4 sore, dan kelompok lainnya makan antara pukul 1 siang dan 9 malam selama periode dua minggu, dan tetap mempertahankan asupan kalori mereka seperti biasa.

Hasil penelitian tersebut kemudian dipublikasikan dalam jurnal Science Translational Medicine, dan menunjukkan bahwa manfaat kardiometabolik puasa intermiten yang banyak digembar-gemborkan kemungkinan merupakan hasil dari mengonsumsi lebih sedikit kalori, bukan karena pengaturan jendela makan, kata para peneliti.

Para peserta juga menunjukkan pergeseran ritme sirkadian mereka (siklus tidur atau bangun) ketika mereka menjalani jadwal makan terbatas waktu, tetapi dampak kesehatan yang terkait belum diketahui.

“Sebagai ahli diet terdaftar, saya hanya merekomendasikan makan terbatas waktu jika direncanakan dengan cermat dan digeser lebih awal dalam sehari,” kata Lauren Harris-Pincus, seorang ahli gizi terdaftar di New Jersey, yang sepakat dengan hasil penelitian tersebut.

Lebih lanjut, Pincus juga memperingatkan bahwa melewatkan sarapan untuk memungkinkan waktu makan yang lebih siang dapat mengakibatkan asupan nutrisi yang perlu diperhatikan dalam diet, apabila tidak ingin kekurangan kalsium, kalium, serat, dan vitamin D.

Para peneliti yang terlibat mengatakan bahwa diperlukan lebih banyak studi untuk mengeksplorasi efek pembatasan waktu makan dalam jangka waktu yang lebih lama. Masih perlu dilihat juga bagaimana kombinasi pembatasan kalori dan pembatasan waktu makan dapat memengaruhi hasilnya.